“Outlook Perunggasan 2026–2027: Resiliensi dan Kedaulatan Industri Unggas Nasional untuk Stabilitas Pangan di Tengah Dinamika Kebijakan Impor, Investasi Strategis, dan Penguatan Sistem Veteriner”
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Nasional Perunggasan 2026 sebagai forum strategis yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, pelaku industri, praktisi, dan peternak untuk membahas arah pengembangan industri perunggasan nasional dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Tema yang tertulis diatas mencerminkan pentingnya penguatan sektor perunggasan sebagai salah satu fondasi utama penyedia protein hewani nasional sekaligus penggerak perekonomian Indonesia. Seminar ini diselenggarakan sekaligus sebagai agenda pembukaan dari rangkaian Dies Natalis Fakultas Keodokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang ke-80.
Acara dibuka melalui opening remarks dari Rektor Universitas Gadjah Mada yang diwakili oleh Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt.. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa momentum Dies Natalis ke-80 FKH UGM bukan sekadar perayaan perjalanan institusi, tetapi juga refleksi atas kontribusi panjang dunia akademik veteriner dalam mendukung pembangunan sektor peternakan, kesehatan hewan, kesehatan masyarakat veteriner, dan ketahanan pangan nasional.
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada yang diwakili oleh Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D. turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, mitra, sponsor, dan peserta yang hadir dalam seminar nasional tersebut.
Keynote speech disampaikan oleh Andi Amran Sulaiman yang diwakili oleh Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng. Dalam sambutannya, disampaikan bahwa pemerintah menunjukkan komitmen kuat terhadap pencapaian swasembada pangan melalui penguatan regulasi nasional, peningkatan ekosistem industri ayam, penguatan cadangan dan penyimpanan jagung, serta pembangunan sinergi lintas sektor bersama berbagai pemangku kepentingan.
Diskusi seminar juga mengangkat peluang Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Para narasumber menekankan bahwa cita-cita tersebut dapat dicapai melalui kebijakan yang tepat, komitmen politik yang kuat, sinergi multipihak, serta konsistensi implementasi di lapangan. Pada sesi pertama yang dimoderatori oleh Dr. drh. Dwi Priyowidodo, narasumber pertama, Ir. Achmad Dawami, S.Pt., memaparkan materi mengenai implikasi regulasi impor dan investasi terhadap pelaku usaha unggas. Ia menegaskan bahwa sektor perunggasan bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan infrastruktur strategis negara yang memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan protein masyarakat secara cepat, terjangkau, dan berkelanjutan.
Menurutnya, industri unggas nasional terus menunjukkan pertumbuhan signifikan seiring meningkatnya permintaan protein hewani masyarakat. Namun demikian, industri masih menghadapi tantangan berupa ketidakseimbangan supply-demand, potensi oversupply, regulasi yang tumpang tindih, serta perlunya sinkronisasi antar lembaga untuk menciptakan tata kelola industri yang lebih efektif dan berkeadilan.
Narasumber kedua, Ir. A. Bagus Pekik, S.Pt., menekankan bahwa kualitas suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh kecukupan protein masyarakatnya. Dalam konteks tersebut, industri poultry memiliki posisi strategis karena mampu menyediakan sumber protein yang murah, mudah diakses, dan cepat diproduksi, sekaligus memberikan multiplier effect yang luas terhadap perekonomian nasional. Ia juga menyoroti sejumlah tantangan utama industri perunggasan, mulai dari fluktuasi harga bahan baku pakan, lemahnya hilirisasi dan rantai dingin (cold chain), hingga disparitas produksi antar wilayah yang masih terpusat di Pulau Jawa. Oleh karena itu, diperlukan penguatan ekosistem industri dari hulu hingga hilir agar ketahanan protein nasional dapat terwujud secara merata.
Sementara itu, H. Singgih Januratmoko, S.KH., M.M. memaparkan realitas lapangan yang dihadapi peternak mandiri pada periode 2026–2027. Ia menjelaskan bahwa peternak masih menghadapi tekanan berupa kenaikan biaya produksi, keterbatasan akses modal, rendahnya penguasaan teknologi, dan fluktuasi harga jual. Meski demikian, peternak mulai menunjukkan kemampuan adaptasi melalui modernisasi sistem kandang dan penerapan closed house untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas usaha.
Pada sesi kedua yang dimoderatori oleh Dr. drh. Yuli Purwandari, M.P., Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si. membahas penguatan sistem veteriner nasional sebagai fondasi ketahanan pangan dan keamanan produk unggas nasional. Ia menegaskan bahwa komoditas ayam dan telur menjadi sektor yang paling siap mendukung program Makan Bergizi Gratis karena memiliki tren produksi yang terus meningkat, kondisi surplus nasional, serta ketergantungan impor yang relatif rendah. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa sektor perunggasan memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) peternakan, penyediaan protein masyarakat, penyerapan tenaga kerja, hingga penghasil devisa negara. Namun demikian, tantangan seperti fluktuasi harga DOC dan pakan, distribusi yang belum merata, serta rantai pasok yang panjang masih perlu menjadi perhatian bersama. Sebagai upaya penguatan, pemerintah mendorong pengembangan hilirisasi ayam terintegrasi, pembangunan kompartemen bebas penyakit, serta penguatan jaminan keamanan pangan melalui prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) guna meningkatkan daya saing produk unggas Indonesia di pasar global.
Selanjutnya, Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P. memaparkan proyeksi penyakit unggas tahun 2026–2027 beserta implikasinya terhadap biosekuriti dan stabilitas produksi nasional. Ia menjelaskan bahwa penyakit seperti Newcastle Disease (ND) dan Avian Influenza (AI) masih menjadi ancaman utama akibat tingginya kemampuan mutasi virus RNA yang memunculkan berbagai varian baru. Selain ancaman penyakit, isu resistensi antimikroba, multiinfeksi, imunosupresi, hingga lemahnya penerapan biosekuriti di tingkat peternakan dan transportasi juga menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian bersama. Oleh sebab itu, penerapan biosekuriti secara konsisten dan berkelanjutan dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas industri perunggasan nasional.
Pada pemaparan terakhir, drh. Desianto Budi Utama, M.Sc., Ph.D. membahas strategi industri pakan dalam menghadapi fluktuasi harga jagung dan soybean meal (SBM). Mengingat sekitar 70–75% biaya produksi unggas berasal dari pakan, efisiensi formulasi serta penguatan sistem logistik menjadi faktor yang sangat menentukan keberlangsungan industri. Ia menjelaskan bahwa industri pakan nasional masih menghadapi tantangan berupa tingginya volatilitas harga jagung, keterbatasan stok bahan baku, ketergantungan pada bahan impor, serta tingginya biaya distribusi antar wilayah. Pengembangan bahan baku lokal dinilai menjadi solusi potensial, meskipun masih menghadapi kendala kualitas, antinutrisi, dan efisiensi ekonomi.
Melalui Seminar Nasional Perunggasan 2026 ini, diharapkan tercipta penguatan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, dan peternak dalam membangun sektor perunggasan yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan. Sinergi lintas sektor tersebut menjadi langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mewujudkan Indonesia sebagai salah satu pusat produksi pangan dunia di masa depan. Acara ini mendukung beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) seperti SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, SDG 4 Pendidikan Berkualitas, SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 15 Ekosistem Darat, dan SDG 17 Kemitraan untuk Tujuan.



















