SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang bertanggung jawab
Seminar yang dihadiri oleh para pemilik klinik hewan, Ketua Unit Peminatan Non Teritorial PB PDHI, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI, Dokter Hewan praktisi, Lembaga Swadaya Masyarakat penggiat kesejahteraan Hewan, serta komunitas penyayang Hewan itu, menampikan tiga (3) pembicara berbobot yang ahli dibidangnya.
“Hewan, selalu diposisikan sebagai benda dagang, diabaikan sebagai makhluk hidup, padahal penting bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia, sehingga salah urus dan menimbulkan bencana”, kata drh Wiwiek Bagdja, mantan Ketua Umum Pengurus Besar PDHI dan juga pemerhati kesejahteraan hewan diawal paparannya.
Kesejahteraan Hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Hal ini berarti bila hewan dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai kepentingan, wajib memenuhi segala unsur kesejahteraan hewan yang berada dalam penguasaannya. Ditekankan oleh drh Hastho Yulianto, MM dalam presentasinya menyampaikan; “Penerapan kesejahteraan hewan diberlakukan kepada pemilik hewan, orang yang menangani hewan sebagai bagian dari pekerjaannya dan pemilik fasilitas pemeliharaan hewan” Kesejahteraan Hewan telah menjadi perhatian publik baik nasional maupun internasional dan bahkan menjadi persyaratan internasional dalam perdagangan hewan hidup maupun produk hewan. Dalam rangka penjaminan pelaksanaan pemenuhan Kesejahteraan Hewan dan berdasar aturan perundang-undangan yang berlaku maka telah terbit Peraturan Menteri Pertanian RI No. 32 tahun 2025 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Peraturan ini diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh masyarakat dan juga penyelenggara pemerintahan agar dapat memahami dan melaksanakan pemenuhan Kesejahteraan Hewan.
Meningkatnya tingkat kepemilikan hewan oleh masyarakat untuk berbagai manfaat serta kesadaran dan kepedulian terhadap Kesejahteraan Hewan perlu adanya aturan yang mampu memberi arah sehingga kesadaran dan kepedulian tersebut berada dalam koridor yang benar.
Memahami kesejahteraan hewan bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan landasan pengetahuan yang kokoh serta pengalaman langsung sehingga sosialisasi pemahaman yang benar sangat dibutuhkan agar tidak terjadi penyimpangan pemahaman serta dalam pelaksanaannya oleh setiap lapisan masyarakat. Tidak sedikit terjadi kesalah-pahaman publik dalam memahami atau menilai kesejahteraan hewan, ada pula yang memanfaatkannya untuk tujuan yang tidak pantas maka Peraturan Menteri Pertanian No. 32 tahun 2025 ini menjadi aturan yang penting untuk dipahami secara keseluruhan sehingga dapat meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.
“Berdasarkan latar belakang itulah mengapa Seminar ini sangat tinggi urgensinya untuk segera diadakan diawal tahun 2026. Oleh karena itu PDHI cab DKI Jakarta memfasilitasi para pihak untuk bisa mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya dengan jelas. Dan para peserta seminar ini sama sekali tidak dipungut biaya”, ungkap drh. Kumaladewi, MFSc (Sekretaris PDHI cabang DKI Jakarta) selaku ketua panitia acara seminar tersebut.
Dalam Kesejahteraan Hewan tentu tidak bisa meninggalkan status kesehatan hewan karena kedua hal ini merupakan satu kesatuan yang utuh dan bahkan status kesehatan hewan itu sendiri menjadi parameter status Kesejahteraan Hewan. Tujuan utama kesejahteraan hewan adalah kualitas hidup, dimana kualitas hidup hewan tersebut berhubungan dengan pengalaman mental hewan. Kesehatan merupakan aspek penting dalam kesejahteraan hewan, karena adanya penyakit atau cedera menimbulkan perasaan tidak nyaman seperti rasa sakit, kebingungan dan tertekan yang adalah kondisi mental hewan.
Hewan mengalami kesejahteraan yang baik jika hewan itu sehat, nyaman, bergizi baik, aman, tidak menderita keadaan yang tidak menyenangkan, seperti: rasa sakit, ketakutan dan tertekan, dan mampu mengekspresikan perilaku yang penting bagi kondisi fisik serta mental hewan tersebut. Kesejahteraan hewan yang baik membutuhkan: pencegahan penyakit dan perawatan hewan yang tepat, tempat tinggal, manajemen dan nutrisi, lingkungan yang menstimulasi positif dan aman, serta penanganan yang manusiawi dan penyembelihan atau pemotongan hewan yang manusiawi.
Untuk menjaga status kesehatan hewan tetap sehat yang berujung pada status sejahtera kesejahteraan hewan, membutuhkan kerjasama berbagai pihak mulai dari pemilik, perawat dan dokter hewan. Kerjasama ini sangat menentukan dalam menilai status kesejahteraan hewan.
Tugas dokter hewan adalah mendampingi pemilik, perawat dan berbagai pihak yang terlibat dalam pemeliharaan hewan agar dapat menjaga status sehat dan kesejahteraan hewan terpenuhi. Selain menjaga atau mencegah, dokter hewan juga bertugas memulihkan kesehatan hewan sehingga dapat kembali sehat. Tugas yang diemban dokter hewan ini tentu tidak serta merta dilaksanakan tanpa ada pengetahuan dan tanggung jawab yang kuat. Seluruh tugas yang diemban dilaksanakan berdasarkan kompetensi yang telah diperoleh melalui pendidikan yang panjang dan berat.
Di Indonesia pendidikan Kedokteran Hewan telah berdiri lebih dari 100 tahun yang lalu pada zaman pemerintahan kolonial Belanda dimana pada saat itu telah terjadi beberapa wabah yang mengakibatkan penyakit pada hewan yang merupakan sumber bahan sandang, pangan dan kerja bagi militer, transportasi serta pertanian. Kebijakan mendirikan pendidikan Kedokteran Hewan di Indonesia ditujukan untuk membantu pemerintah kolonial untuk menjaga rantai pasok bahan pangan serta yang lainnya yang memanfaatkan hewan.
Akan tetapi hingga saat ini tidak ada satu regulasi pun yang mengayomi Pendidikan Kedokteran Hewan ini termasuk regulasi yang mengatur layanan Kedokteran Hewan. Regulasi tersebut sangat penting untuk memastikan jaminan layanan kepada masyarakat dan negara agar penjagaan kesehatan dan kesejahteraan hewan dapat dipertanggungjawabkan.
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. drh. Teguh Budipitojo, Ph.D, menjelaskan lebih jauh; “Meskipun Indonesia telah memiliki regulasi terkait pendidikan tinggi, peternakan dan kesehatan hewan, satwa liar, serta satwa akuatik, hingga saat ini belum terdapat undang-undang yang secara khusus dan terintegrasi mengatur pendidikan profesi dan layanan kedokteran hewan (UU Kedokteran Hewan). Pengaturan yang ada bersifat sektoral dan berorientasi pada hewan produksi, konservasi, dan perikanan, sementara layanan kedokteran hewan untuk hewan kesayangan (companion animals) belum memiliki dasar hukum
yang memadai. Akibatnya, pengaturan profesi dokter hewan terfragmentasi, berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan kesenjangan mutu layanan. Oleh karena itu, UU Kedokteran Hewan diperlukan sebagai lex specialis untuk menjamin mutu pendidikan, standar layanan, sistem registrasi dan perizinan praktik, serta pembinaan profesi melalui Veterinary Statutory Body, sekaligus memperkuat pendekatan One Health dalam kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.”
Mengingat hal tersebut Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia telah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pendidikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat RI dan telah masuk ke dalam Program Legislasi Nasional tahun 2019 – 2024. Akan tetapi hingga berakhirnya periode tersebut RUU tersebut tidak kunjung
dibahas di DPR RI. Maka pada periode berikutnya tahun 2024 – 2029 diajukan kembali RUU Pendidikan Dan Layanan Kedokteran Hewan dengan harapan segera mendapat perhatian untuk dibahas. Namun hingga kini belum menjadi prioritas.
Oleh karena itu melalui seminar ini diharapkan dukungan masyarakat agar dapat mendorong para wakil rakyat untuk segera menetapkan RUU Pendidikan dan Layanan Kedokteran Hewan menjadi prioritas tahunan sehingga dapat memberikan kepastian hukum bagi berbagai pihak terkait, untuk bisa bekerja dalam perlindungan hukum. Hal inipun langsung ditegaskan sejak awal seminar oleh drh. MTh. Widiastuti, Ketua PDHI cab DKI Jakarta dalam sambutannya, ”Dokter Hewan selaku profesi yang terikat secara professional dengan kompetensi yang melekat, perlu mendapatkan dukungan regulasi veteriner dari negara terkait erat dengan penyelenggaraan kesehatan dan kesejahteraan hewan “
Kegiatan ini didukung oleh Sustainable Development Goals antara lain SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang bertanggung jawab, dan SDG 17: Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan.
Kegiatan dimulai pada hari Jumat, 21 November 2025 di Auditorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada dengan Opening Ceremony yang dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan Himne Gadjah Mada, Himne IMAKAHI, dan Mars IMAKAHI. Kegiatan diawali dengan dengan penampilan tari Retno Asri, selanjutnya sambutan ketua panitia, Diva Pendriana, sambufftan drh. Retno Widyastuti sebagai Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, serta sambutan dan simbolis pembukaan oleh Wakil Dekan FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si.
Setelah rangkaian Opening Ceremony usai, para Satra diantarkan menuju Teaching Farm Playen. Di Teaching Farm, Satra dibagi menjadi 3 pos untuk mendapatkan Pelatihan Yanduan dari drh. Woro Danur Wendo, M.Sc., Dr. drh. Vincentia Trisna Yoelinda, M.Si., dan drh. Rina Wijayanti mengenai tata laksana pemeriksaan dasar kesehatan ternak sapi dan kambing. Pelatihan Yanduan dilaksanakan guna memperkaya pengetahuan, sejalan dengan SDGs 4 ‘Pendidikan Berkualitas’ yang menegaskan bahwa pembelajaran yang inklusif dan kolaboratif diperlukan untuk memberi kesempatan yang sama bagi setiap mahasiswa untuk mendapat pengetahuan dasar mengenai ternak sebelum terjun ke lapangan.
Selepas belajar bersama, seluruh Satra mengikuti kegiatan Guyub Sesrawungan di Balai Kalurahan Getas bersama warga setempat, yang dibuka dengan sambutan Bapak Saekat selaku Kepala Kalurahan Getas, penampilan drama delegasi oleh kelompok 7 dan dimeriahkan dengan kuis tanya jawab mengenai drama yang telah ditampilkan. Rangkaian Guyub Sesrawungan ditujukan untuk mengawali hubungan baik antara PENGMASNAS IMAKAHI 2025 dengan Kalurahan Getas yang juga mengimplementasikan SDGs 17 ‘Kemitraan untuk Mencapai Tujuan’. Hari semakin malam, Satra dibagi menjadi 11 kelompok dan diantarkan menuju rumah huni yang berada di 6 dukuh, yakni Padukuhan Getas, Padukuhan Tanjung, Padukuhan Ngasem, Padukuhan Gubuk Rubuh, Padukuhan Ngrunggo, dan Padukuhan Gembuk untuk beristirahat.
Kegiatan hari kedua pada Sabtu, 22 November 2025 diawali dengan persiapan Satra di rumah huni masing-masing, kemudian setiap kelompok mengikuti briefing singkat mengenai Medical Check Up atau biasa dikenal Yanduan bersama 11 orang Supervisor yang merupakan dokter hewan dan paramedis veteriner dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul serta UPT Puskeswan Playen, juga bersama beberapa mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan FKH UGM. Yanduan dilaksanakan terpisah menjadi 11 titik di 6 padukuhan dengan didampingi seorang warga setempat yang menjadi pemandu jalan. Pada setiap titik, 20 ekor ternak sapi atau kambing dipantau kesehatannya dengan pemeriksaan umum seperti pengecekan suhu, kebuntingan, auskultasi, serta pemberian vitamin B, obat cacing, dan vaksinasi bersyarat. Yanduan merupakan upaya mengimplementasikan aspek One Health juga SDGs 3 ‘Kehidupan Sehat dan Sejahtera’ dengan meningkatkan kesejahteraan hewan melalui pemeriksaan kesehatan serta pemberian vitamin, obat, dan vaksinasi sebagai awal pencegahan penyakit zoonosis.
Bersamaan dengan Yanduan, panitia melaksanakan kegiatan bakti sosial guna membantu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalurahan Getas yang membutuhkan. Dengan bakti sosial, PENGMASNAS IMAKAHI 2025 berupaya mewujudkan SDGs 1 ‘Menghapus Kemiskinan’ dan SDGs 2 ‘Mengakhiri Kelaparan’ yakni mengurangi beban ekonomi warga dengan mendistribusikan paket sembako bagi 10 warga di setiap padukuhan yang kurang sejahtera.
Pada malam hari, Satra dari berbagai dukuh diarahkan menuju tiga titik Penyuluhan dan Workshop, yaitu di rumah Kepala Dukuh Ngasem, rumah Kepala Dukuh Tanjung, dan rumah Kepala Dukuh Ngrunggo. Acara dibuka oleh MC di tiap lokasi dan dilanjut dengan penyuluhan mengenai Manajemen Kandang dan Lingkungan oleh drh. Agus Riyanto, drh. Wivqie Halum, dan drh. Nurwahyudi, S.Pt. Materi yang disampaikan mencakup prinsip-prinsip dasar pengelolaan kandang. Selama kegiatan berlangsung, warga aktif bertanya dan berdiskusi mengenai masalah kandang yang dihadapi.
Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan Workshop pakan tambahan berbasis molases dan mineral bernama UMMB (Urea Molasses Mineral Block). Selama kegiatan, Satra mendampingi warga dalam proses pencampuran bahan, pengadukan, pencetakan, hingga penjelasan manfaat UMMB guna meningkatkan produktivitas ternak. Workshop berlangsung interaktif dan memberikan wawasan praktis yang dapat langsung diterapkan warga dalam kegiatan beternak. Suksesnya kegiatan Penyuluhan dan Workshop menunjukkan bahwa SDGs 12 ‘Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab’ terwujud dengan terbarukannya pengetahuan warga mengenai tata kelola pakan dan kandang guna meningkatkan efisiensi produksi ternak di Kalurahan Getas.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan hari kedua PENGMASNAS IMAKAHI 2025 berjalan lancar dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan ternak melalui Yanduan, edukasi melalui Penyuluhan, serta praktik langsung dalam Workshop UMMB menjadi pengalaman bermakna bagi warga dan Satra. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini memperkuat kompetensi delegasi sebagai calon dokter hewan yang siap terjun ke dunia profesi. Kegiatan hari kedua ditutup dengan suasana penuh kehangatan, kolaborasi, dan harapan agar ilmu yang dibagikan dapat terus bermanfaat bagi masyarakat Kalurahan Getas.
Kegiatan hari ketiga PENGMASNAS 2025 diawali dengan Senam dan Sarapan bersama yang diikuti oleh seluruh delegasi dan beberapa warga lokal. Senam dan Sarapan dibagi ke dalam tiga lokasi yang sama seperti lokasi Penyuluhan dan Workshop. Senam yang dipimpin oleh panitia berhasil mencairkan suasana dan mempererat tali silaturahmi, sehingga baik warga, Satra, dan panitia terlihat menikmati kegiatan tersebut dengan antusias. Seusai sarapan, peserta melanjutkan kegiatan bersih-bersih dan berkemas di rumah huni untuk persiapan menuju Closing Ceremony.
Seluruh Satra berkumpul di Balai Kalurahan untuk mengikuti Closing Ceremony. Acara ini dibuka dengan sambutan oleh Penanggung Jawab PC IMAKAHI, Aprilia Ipon, dilanjutkan sambutan Ketua Umum PB IMAKAHI, Briliani Sekar Utami dan sambutan terakhir oleh Kepala Kalurahan Getas, Bapak Saekat. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian kesan dan pesan dari Satra, pemberian sertifikat, serta penyerahan bibit tanaman mangga sebagai tanda kenangan dan harapan keberlanjutan kegiatan. Pemberian ini mewujudkan SDGs 15 ‘Menjaga Ekosistem Darat’ dengan upaya melestarikan lingkungan melalui penanaman pohon. Rangkaian acara diakhiri dengan foto bersama. Setelah Closing Ceremony selesai, Satra diantarkan kembali menuju FKH UGM untuk mengikuti Bonding dan makan bersama. Bonding ditutup dengan pemutaran mini after movie PENGMASNAS IMAKAHI 2025 dan penutupan resmi oleh MC.
Usai Bonding, beberapa Satra melanjutkan kegiatan “Jogja Istimewa” berupa kunjungan ke destinasi budaya di Yogyakarta, Museum Sonobudoyo dan Museum Benteng Vredeburg. Sementara itu, Satra yang tidak mengikuti kegiatan Jogja Istimewa diarahkan panitia menuju stasiun terdekat untuk kepulangan. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dipilih sebagai destinasi wisata yang menghadirkan kisah perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sehingga memberikan pengalaman edukatif yang mendalam bagi pengunjung. Sementara itu, Museum Sonobudoyo dengan koleksi budaya dan arkeologi yang sangat beragam memberikan suasana hangat dan sarat nilai budaya, sehingga memperkaya wawasan Satra mengenai sejarah dan kearifan lokal Yogyakarta. Kedua kunjungan ini mengimpelentasikan SDGs 11 ‘Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan’ yang mendukung keberlanjutan komunitas dengan peningkatan kesadaran akan pelestarian warisan budaya dan alam dunia. Kegiatan hari ketiga ditutup dengan pengantaran para delegasi ke stasiun setelah selesai mengikuti rangkaian Jogja Istimewa. Rangkaian kegiatan PENGMASNAS IMAKAHI 2025 sukses mewujudkan program kerja yang berkelanjutan, bermanfaat, dan inklusif melibatkan peran dokter hewan serta calon dokter hewan dalam mengimplementasikan ‘Manusya Mriga Satwa Sewaka’ melalui pengabdian pada masyarakat Kalurahan Getas, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.





























Film yang dibedah adalah David Attenborough : A Life on Our Planet yang berkisah mengenai kerusakan alam yang disaksikan selama lebih dari 90 tahun oleh David Attenborough, seorang biologist dan penyiar. Melalui sudut pandang biologist sekaligus penyiar, film ini mengajak penonton untuk merefleksikan dampak aktivitas manusia terhadap keberlanjutan bumi.
Setelah penontonan film, peserta diberikan waktu untuk melakukan diskusi yang meliputi kutipan-kutipan yang menyentuh hati, fakta menarik yang baru diketahui, upaya yang bisa dilakukan sebagai mahasiswa, dan kesan pesan selama kegiatan. Acara ini diakhiri dengan ajakan untuk melakukan daur ulang sampah pada kotak daur ulang yang disediakan KSSL FKH UGM untuk konservasi penyu di Pantai Pelangi, Bantul oleh Yayasan Aksi Konservasi Yogyakarta. Upaya daur ulang dilakukan secara interaktif melalui video ajakan dan juga pemberian contoh sampah yang dapat didaur ulang.
Rangkaian acara berjalan dengan baik dan antusias dari peserta yang tinggi, tetapi terdapat kendala dimana tidak semua angkatan dapat mengikuti kegiatan tersebut dikarenakan terdapat praktikum dan jadwal kelas yang berjalan secara bersamaan. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa FKH UGM dapat menambah pengetahuan, wawasan, dan kesadaran mengenai kerusakan alam yang terjadi serta upaya untuk menanggulanginya, kegiatan ini berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals pada poin ke-4 mengenai pendidikan berkualitas dan poin ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.



Smart Veterinary Teaching Farm (SVTF) adalah wahana pembelajaran yang dimiliki
“Untuk mengatasinya, kami, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi aditif pakan berbasis nanopartikel zinc oxide (ZnO) hasil green synthesis menggunakan ekstrak daun meniran (Phyllanthus niruri) sebagai solusi ramah lingkungan untuk menekan emisi gas metana (CH4) dari ternak ruminansia,” ujar Rizal, salah satu anggota tim yang mencetuskan ide ini.
Tim PhylloZinc mengusung judul “Potensi Green Synthesis ZnO Nanoparticles dengan Ekstrak Daun Phyllanthus niruri: Solusi Inovatif Mitigasi Emisi Gas Metana Melalui Aditif Pakan Ruminansia” dalam kegiatan PKM-RE 2025. Penelitian yang diwadahi melalui program Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset Eksakta ini beranggotakan Jesslyn Beatrice (Fakultas Peternakan 2023), Zahwa Tsuroyya A. Z. (Fakultas Biologi 2023), Rona Ayyu H. (Fakultas Kedokteran Hewan 2023), Ahmad Rizal Riswanda D. (Fakultas Peternakan 2022), serta Catherine Noor (Fakultas Peternakan 2023) sebagai ketua. Selain itu, Dr. Moh. Sofi’ul Anam, S.Pt., MSc. juga turut berperan sebagai pembimbing.
“Saat ini kami sudah memasuki tahap uji lanjutan karena Nanopartikel ZnO sudah selesai disintesis. Kami berharap hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengatasi permasalahan gas metana yang sampai saat ini masih menjadi salah satu masalah utama di industri peternakan,” ujar Catherine saat diwawancarai.
“Selain mengatasi masalah emisi gas metana, formulasi pakan inovatif ini diharapkan meningkatkan kesehatan ternak dan produktivitasnya,” Rona menambahkan.
Zahwa berujar bahwa Tim PhylloZinc memanfaatkan tanaman Phyllantus niruri atau yang kerap disebut Meniran karena kandungan Flavonoidnya yang sangat tinggi dan dan cara mendapatkannya yang tergolong mudah.
Hasil green synthesis ini berupa bubuk dan larutan ZnO berukuran nano. Setelah didapatkan kedua hal tersebut, nanopartikel diuji karakteristiknya dengan spektrofotometer, PSA, XRD, dan SEM. Selain itu, nanopartikel ZnO juga diujikan secara In Vitro di laboratorium Teknologi Makanan Ternak Fakultas Peternakan UGM. Hasil dari uji In Vitro tersebut berupa cairan rumen, dan gas yang akan dilakukan uji lanjutan berupa Uji Protein Mikrobia, Uji Ammonia, Uji FVA, Uji pH Cairan Rumen, dan Uji RT-PCR.
“Dengan dukungan dana penelitian dari Belmawa dan UGM, riset ini kami laksanakan selama empat bulan di Fakultas Peternakan UGM, melibatkan teman-teman dari berbagai bidang multidisiplin. Penelitian kami ini sejalan dengan tema PKM 2025 nomor 8 yaitu pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana,” Jesslyn menutup wawancara.
Pengembangan nanopartikel ZnO hijau dari daun meniran untuk menekan emisi metana ternak merupakan inovasi strategis untuk mendukung peternakan modern yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, serta kontribusi penting bagi penanggulangan pemanasan global serta meningkatkan produktivitas ternak.
Penulis : Rona Ayyu Happyna
CP : Rona Ayyu Happyna (081311576588)
Randika Taufiq Hari Nugraha, selaku ketua tim peneliti, menekankan bahwa GGA merupakan kondisi klinis darurat dengan risiko mortalitas yang tinggi jika tidak ditangani dengan segera. “Strategi penanganan saat ini lebih terfokus pada mitigasi gejala dan komplikasi. Oleh karena itu, riset kami berupaya mencari solusi melalui bahan alam yang terbukti memiliki kemampuan proteksi terhadap sel-sel ginjal,” jelasnya. Riset multidisiplin ini melibatkan anggota tim lainnya, yaitu Artha Maressa Theodora Simanjuntak, Frengki Prabowo Saputro Wijayanto, Devi Vita Sari, dan Evelyn Hartono. Mereka dibimbing oleh dr. Nur Arfian, Ph.D. dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.
Devi Vita Sari memaparkan bahwa daun rosemary kaya akan senyawa bioaktif utama, seperti asam rosmarinat dan kuersetin, yang dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi kuat. Senyawa-senyawa ini diperkirakan dapat memberikan efek perlindungan pada ginjal dengan cara mereduksi stres oksidatif dan mencegah pembentukan kristal kalsium oksalat. “Melalui serangkaian uji laboratorium, termasuk Spektrofotometri UV-Vis, Kromatografi Lapis Tipis (KLT), dan pengujian antioksidan metode DPPH, kami berhasil mengonfirmasi tingginya kandungan fenolik dan flavonoid yang mendasari aktivitas proteksi ginjal ini,” imbuhnya.
Artha Maressa Theodora Simanjuntak menambahkan bahwa hasil pengujian menunjukkan korelasi yang jelas antara profil fitokimia yang teridentifikasi dengan aktivitas biologis ekstrak rosemary. “Kandungan bioaktif ini terbukti secara efektif menekan stres oksidatif, yang merupakan mekanisme kunci pemicu kerusakan selular pada organ ginjal,” paparnya.
Sementara itu, Evelyn Hartono menyoroti pentingnya menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam riset bahan alam. “Kami berharap penelitian ini dapat menjadi fondasi saintifik untuk mengembangkan opsi terapi alternatif yang lebih aman, terjangkau, dan efektif dalam manajemen Gagal Ginjal Akut di masa depan,” kata Evelyn.
Lebih lanjut, Frengki Prabowo Saputro Wijayanto menyatakan harapan agar temuan ini dapat berkontribusi pada upaya pengembangan obat herbal terstandar dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia. “Langkah krusial berikutnya adalah melakukan uji praklinis untuk menguji kelayakan ekstrak rosemary sebagai kandidat fitofarmaka,” pungkasnya.
Penelitian yang didukung oleh pendanaan Simbelmawa ini tidak hanya menyumbang kemajuan di bidang biomedis dan farmasi, tetapi juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) 3: Good Health and Well-being, melalui pengembangan intervensi terapeutik yang berpotensi menurunkan morbiditas akibat penyakit ginjal, SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure yang ditunjukkan dengan penelitian yang menggunakan ekstrak bahan alami yang dapat menghasilkan produk farmasi baru atau terapi alternatif, SDG 12 : Responsible Consumption and Production melalui ekstrak daun rosemary sebagai obat berbasis bahan alam yang ramah lingkungan, dan SDG 15: Life on Land yang ditunjukkan dengan pemanfaatan daun rosemary yang dijadikan ekstrak untuk agen nefroprotektif .
Pada tanggal 4 Juni 2025, Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengadakan kuliah tamu yang menampilkan Assoc. Prof. Dr. Arifah Abdul Kadir dari Universiti Putra Malaysia. Acara yang dilaksanakan secara daring ini merupakan kuliah tamu kedua yang diselenggarakan oleh departemen, dengan fokus pada bidang nanotoxicology yang sedang berkembang.
Program Studi Sarjana Kedokteran Hewan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Pantai Ambal, Ambalresmi, Kebumen, Jawa Tengah pada Kamis (22/5). Kegiatan ini melibatkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kebumen, Kelompok Ternak Barokah serta diikuti oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan.
Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mengadakan pengabdian kepada masyarakat pada 1 3- 14 Juni 2025 di Kabupaten Tuluagung, Provinsi Jawa Timur, Indonesia.



