Acara Non-Ruminant Care Day (NCD) 2024 dimulai pada pukul 13.00 WIB dan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Himne Gadjah Mada. Kemudian dilanjutkan dengan pembukaan dan sambutan dari
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Aware of Issue merupakan salah satu program kerja tahunan Departemen Aksi dan Propaganda BEM FKH UGM. Tahun ini, kegiatan ini mengangkat tema “A Pawfect Pet”
UKM Expo dan Inauguration Night merupakan rangkaian kegiatan Pionir Vetebrae Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini diselenggarakan dengan kerjasama antara FKH UGM dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang D.I. Yogyakarta, dan melibatkan 12 dokter hewan pelaksana, 18 koasistensi serta mahasiswa S1 dari UKM Kelompok Studi Hewan Kesayangan (KSHK) dalam perawatan pasca operasi. Ketua PDHI DIY, drh. Aniq Syihabuddin, dalam wawancaranya mengatakan kegiatan ini dilaksanakan di kampus dikarenakan banyaknya kucing yang diberikan street-feeding oleh para pecinta kucing di UGM. Oleh karena itu, populasinya perlu dikendalikan dengan sterilisasi agar tidak menyebabkan masalah lingkungan maupun masalah kesehatan kucing itu sendiri. Selain itu pemberian vaksinasi rabies pada kucing-kucing di kampus penting dilakukan untuk mencegah penularan rabies ke manusia melalui kucing. Vaksinasi rabies membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit zoonosis, melindungi kesehatan hewan dan manusia. Hal ini secara tidak langsung mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 3, Good Health and Well-being.

Kerjasama ini merupakan upaya untuk mensinergikan kegiatan FKH UGM dan PDHI D.I Yogyakarta sehingga bisa semakin meluas, tidak hanya di lingkungan kampus tetapi juga di masyarakat umum untuk membantu mengendalikan populasi kucing serta meningkatkan ketahanan hewan kesayangan terhadap penyakit rabies dengan program vaksinasi gratis. Program ini akan dilanjutkan secara berkala demi mencapai tujuan jangka panjang dalam pengelolaan populasi kucing, membantu menjaga keseimbangan ekosistem, mencegah dampak negatif pada biodiversitas serta berkontribusi pada lingkungan perkotaan yang lebih bersih dan aman. Hal ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 15, Life on Land dan SDGs 11, Sustainable Cities and Communities.

Keterlibatan mahasiswa dalam program sterilisasi kucing dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang kesejahteraan hewan dan pentingnya pengendalian populasi hewan, serta memperoleh pengalaman praktis yang mendukung pendidikan mereka di bidang kedokteran hewan selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4, Quality Education. Tamam, salah satu koasistensi yang terlibat mengatakan, kegiatan ini memberikan kesempatan baginya untuk mempraktekkan secara langsung beberapa langkah operasi di antaranya incisi abdomen kucing dan ligasi uterus.
Penulis: Laila Nur Fatimah
Proyek riset yang dilakukan oleh Syifa dan anggota timnya merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE). Didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), tim Sambikarnis berhasil menemukan potensi obat hepatoprotektor ekstrak sambiloto dengan kombinasi cangkang kapsul akar manis sebagai terapi alternatif Feline Infectious Peritonitis. Penelitian ini selaras dengan SDGs poin 3, kesehatan yang baik dan kesejahteraan.
Feline Infectious Peritonitis (FIP) merupakan salah satu virus yang menyerang pada kucing dengan 80% penderitanya mengalami tipe efusif yang disebabkan oleh vaskulitis jaringan hepar yang semakin parah hingga membentuk jaringan parut di hepar (sirosis) sehingga mengakibatkan penumpukan cairan pada rongga abdomen dan dengan tingkat kematian yang tinggi.
Hati mengatakan bahwa “FIP terjadi ketika adanya mutasi pada feline entric coronavirus yang kemudian menyebar melalui sistem fagositosis monosit dan variasi terbentuk dalam respon imun, yaitu FIP efusif (basah) dan non efusif (kering)”.

Pengobatan yang paling umum diberikan untuk penderita FIP saat ini adalah antivirus Remdesivir dan GS-441524. Namun, dua jenis pengobatan ini didapatkan dari hasil impor dengan penggunaan jangka panjang, yaitu 84 hari dan didukung dengan penggunaan obat support yang cukup banyak.
“Ekstrak sambiloto dalam cangkang kapsul akar manis merupakan formulasi herbal yang bersifat hepatoprotektor yang dihasilkan melalui proses ekstraksi dengan metode maserasi ethanol 96% kemudian pada ekstrak sambiloto dibentuk sediaan serbuk, sedangkan ekstrak akar manis diformulasikan sebagai kapsul pelapis dari serbuk ekstrak sambiloto. Ekstrak sambiloto memiliki senyawa aktif andrographolide yang mampu mengurangi kematian hepatosit, menurunkan kadar SGPT, SGOT, dan meningkatkan albumin sehingga hepar menjadi normal kembali. Ekstrak akar manis memiliki kandungan glisirizin yang sering digunakan sebagai sweetener agent dan telah terbukti bermanfaat sebagai antivirus. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak sambiloto dalam cangkang kapsul akar manis dosis 200 mg/kgBB terbukti efektif dalam menaikan kadar albumin dan menurunkan kadar SGOT, SGPT serta mempercepat perbaikan jaringan hepar yang terpapar oleh agen hepatotoksik dan virus,” terang Syifa selaku ketua tim.

“Perlu adanya eksplorasi sumber pengobatan baru untuk FIP dan penyesuaian dosis dengan hewan probandus (subjek utama). Formulasi hepatoprotektor ekstrak sambiloto dalam cangkang kapsul akar manis dapat menjadi kandidat terapi, tetapi diperlukan adanya landasan yang kuat untuk penelitian lebih lanjut,” ujar Afi.
Riset ini dapat mengungkap aktivitas hepatoprotektor ekstrak sambiloto dalam cangkang kapsul akar manis sebagai terapi alternatif FIP. Berlandaskan kerja keras dan kolaborasi riset terdahulu, riset ini terus digali untuk kontribusi dalam mewujudkan SDGs 3 Kehidupan yang sehat dan sejahtera. Dengan mengembangkan terapi alternatif yang berbasis alam, penelitian ini juga berkontribusi pada pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Riset ini tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga pada transfer pengetahuan dan teknologi sehingga hasilnya dapat diterapkan secara luas dan bermanfaat bagi masyarakat global. keberhasilan penelitian ini diharapkan dapat menjadi langkah signifikan dalam pengembangan obat-obatan herbal yang teruji secara ilmiah dan memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat.

Seminar dibuka oleh Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Sc., selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama dan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Seminar berlangsung secara daring dan luring di Ruang Sidang Dekanat dan dihadiri oleh dosen, praktisi kesehatan hewan, dan mahasiswa S1-S3 FKH maupun dari universitas diluar UGM. Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Ahmed Abd El Wahid menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi antara sektor kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat, baik akademisi maupun pihak pemerintah untuk mengatasi tantangan zoonosis, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia, yang memiliki bentuk kepulauan sehingga membutuhkan Kerjasama berbagai pihak untuk mengatasi masalah zoonosis khususnya terkait lalu lintas pangan asal hewan dan foodborne disease. Beliau juga membahas strategi pencegahan dan pengendalian penyakit zoonotik yang efektif.
Sementara itu, Prof. Dr. Uwe Truyen berbagi penelitian terbaru mengenai patogen zoonotik dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat global. Ia menyoroti perlunya pendekatan berbasis bukti dalam menangani isu-isu zoonosis yang berkembang seiring dengan perubahan iklim dan urbanisasi.
Kuliah umum ini memberikan wawasan baru terkait zoonosis terutama pendekatan One Health sebagai strategi holistik untuk memerangi penyakit emerging dan re-emerging disease pada negara yang memiliki pendapatan rendah dan menengah. Selain itu, kegiatan ini juga berimpak pada fungsi ketahanan pangan yang sehat. Kuliah umum terkait zoonosis menjadi wujud nyata Fakultas Kedokteran Hewan UGM dalam upaya mencapai tujuan SDGs 1: Tanpa Kemiskinan, SDGs 2: Tanpa Kelaparan, SDGs 3:Kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 4: pendidikan berkualitas, SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDGs 7: Energi bersih dan terjangkau, SDGs 8: Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan, SGDs 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung jawab, SDGs 14: Ekosistem Lautan, SDGs 15: Ekosistem Daratan, SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang tangguh, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Yanis Ramadhanti
Penyakit Anthrax perlu mendapatkan perhatian dan penanganan khusus karena sulit diberantas. Penyebaran penyakit ini melalui spora yang bisa menyebar dengan sangat cepat dan cakupan wilayah terdampak yang sangat luas. Selain itu spora Anthrax juga bisa bertahan hidup sampai puluhan tahun.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat kali ini diisi dengan pemaparan cara menangani wabah penyakit Anthrax oleh narasumber yang berkompeten di bidangnya.
Setelah kegiatan penyuluhan dilanjutkan dengan pemberian bantuan berupa vitamin dan obat cacing kepada peternak kambing dan sapi setempat.
Kegiatan ini selaras dengan SDGs utamanya ( Hastag) : poin 3 kehidupan sehat dan sejahtera, poin 12 konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab dan poin 15 ekosistem daratan

Seminar dibuka oleh Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M,Sc, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama dan Alumni FKH UGM. Pada kesempatan ini, Aris menyebutkan bahwa telah ditandatangani Perjanjian Kerja Sama antara FKH UGM dengan IDHSI yang diharapkan selaras dengan SDGs 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. “Seminar ini merupakan kegiatan pertama dan semoga dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya karena terlihat antusias peserta yang sangat bagus dan perlu adanya update tentang sapi perah” ungkapnya. Hal ini juga diamini oleh PDHI D.I.Yogyakarta. “Kami sangat mengapresiasi dan berbangga, karena belum banyak seminar dan workshop tentang hewan besar, sehingga ini merupakan terobosan yang baik, yang diharapkan bisa meningkatkan skill dokter hewan terutama di Yogyakarta” ungkap drh. Romli Ainul Kusumo, wakil ketua II Bidang Hubungan Masyarakat dan Sosial Media PDHI. D.I. Yogyakarta
Pada blended seminar yang dihadiri oleh 120an praktisi dokter hewan dari berbagai wilayah dan beberapa mahasiswa, Prof. Richard menyampaikan tentang seluk beluk kepincangan pada sapi. Meskipun beliau mengambil contoh kasus lameness di negaranya, New Zealand, kasus ini sangat relevan dan bisa saja terjadi di Indonesia, sehingga dapat diambil pelajaran tentang cara penanganan kasus lameness. Pada sesi kedua, drh. Deddy Fachruddin Kurniawan menyampaikan tentang teknis pemotongan kuku. Diantaranya tips dan trik bagaimana handling dan restrain sapi yang akan dipotong kukunya. Kegiatan ini diharapan secara tidak langsung dapat mewujudkan kehidupan yang lebih sehat dan sejahtera (SDGs 3) dan menjaga ekosistem daratan yang lebih baik (SDGs 15).
Para peserta nampak antusias sejurus dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada Prof Richard dan drh. Deddy. Dari pertanyan-pertanyaan tersebut banyak membuka kasus kepincangan di kalangan peternak sapi di Indonesia. Salah satu peserta seminar, drh. Keki Riza Murty, medik veteriner UPTD RPH dan Puskeswan, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo mengungkapkan alasannya mengikuti kegiatan ini. Diantaranya ingin mengetahui lebih dalam tentang penanganan laminitis karena banyaknya kasus laminitis di Kabupaten Sukoharjo dan tidak terselesaikan dikarenakan petani lebih memilih untuk menjual ternaknya yang mengalami kepincangan. “Dari materi yang telah disampaikan, saya bisa mengetahui metode pangananan laminitis yang lebih baik, yang belum pernah saya lakukan di Sukoharjo” ungkapnya.
Seminar tersebut dilanjutkan dengan workshop yang dilaksanakan di Koperasi Sapi Perah Sarono Makmur, Cangkringan, Sleman. Pada workshop tersebut, Prof. Richard dan drh. Deddy disertai dengan drh. Sunu, dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKH UGM dan drh. Taufiq , IDHSI, memberikan contoh praktik tentang penanganan dan perawatan kuku pada sapi yang mengalami lameness. Peserta workshop antusias mencoba langsung dengan dipandu oleh narasumber. drh Ruly, salah satu peserta workshop menyampaikan workshop ini lengkap mulai dari materi yang disampaikan hingga praktik langsung, dan ada pengetahuan baru yang didapatkan yang sangat bermanfaat.
Kontributor: Laila.

Pos kegiatan tersebut meliputi Pos Unggas yang memberikan penjelasan tentang jenis-jenis ayam dan teknik sexing ayam. Pos Akuatik yang memperkenalkan cara pengambilan darah lele serta pengetahuan tentang jenis-jenis ikan dan penyakit ikan. Pos Ruminansia yang memberikan pemahaman tentang sapi, termasuk pengenalan bentuk kandang, anatomi sapi, jenis-jenis pakan, pengecekan pulsus, dan teknik handling serta restrain sapi. Selain itu, ada juga Pos Non Ruminansia yang membahas tentang kuda, termasuk penanganan dan jenis-jenis pakan kuda. Tak hanya kegiatan pemaparan, acara ini juga menyuguhkan Pos Game yang menghadirkan serangkaian permainan estafet, Pos Photobooth untuk mengabadikan momen kebersamaan, dan Pos “A Day with Vet”, serta pos small group discussion (SGD) yang memberikan pengalaman langsung dan diskusi mendalam tentang dunia Kedokteran Hewan. Para peserta juga diberi kesempatan langka untuk mengunjungi laboratorium makroanatomi dan melihat secara langsung beberapa preparat menarik.

Acara ini ditutup dengan sesi awarding dan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam kesuksesan acara ini, mulai dari panitia, narasumber, peserta, hingga fakultas yang telah memberikan dukungan penuh. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang Kedokteran Hewan di Indonesia.

Acara HSTP Bergerak yang berlangsung pada hari Sabtu, 11 Mei 2024 selaras mendukung nilai-nilai SGDs (Sustainable Development Goals) pada poin 3,4, dan 10 yaitu Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan dengan cara meningkatkan kesejahteraan manusia melalui kesehatan hewan, Pendidikan Berkualitas dengan cara pemberian edukasi dan pengetahuan mengenai dunia kedokteran hewan, Berkurangnya Kesenjangan karena HSTP Bergerak 2024 dibuka untuk siswa-siswi SMA tanpa melihat jenjang kelas.
