• Tentang UGM
  • simaster
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Bahasa Indonesia
    • English
    • Bahasa Indonesia
Universitas Gadjah Mada Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
    • Salam dari Dekan
    • Sejarah Singkat
    • Visi dan Misi
    • Departemen
    • Manajemen Fakultas
    • Fasilitas dan Unsur Penunjang
    • Unit Kegiatan Mahasiswa
    • Kontak
  • Pendidikan
    • Program Studi Kedokteran Hewan
    • Program Profesi Dokter Hewan
    • Program Pascasarjana
    • Kanal Pengetahuan
  • Penelitian
    • Komite Etik Penelitian
  • ADMISI
  • Unduh
    • LAPORAN DEKAN
    • Buku Panduan Akademik
    • Sertifikat Akreditasi
    • Koleksi Dokumen LAMPTKes S1-PPDH
    • Capaian MCK FKH UGM
  • Pojok Saran
  • Beranda
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
  • SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Arsip:

SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera

Pengenalan Keprofesian Veteriner (PKV) di Sekolah Berkuda Octagon Stable

BeritaKegiatan Mahasiswa Senin, 18 Mei 2026

9
1
4
8

Lihat   Selengkapnya

2 Mahasiswa FKH Raih Perunggu dalam BIOS 2025

BeritaKegiatan Mahasiswa Rabu, 4 Maret 2026

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menorehkan capaian di tingkat internasional dengan meraih medali perunggu pada ajang Bioinformatics and Synthetic Biology Competition (BIOS) 2025. Kompetisi ini diselenggarakan oleh synbio.id, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada pengembangan dan akselerasi riset di bidang biologi sintetis serta bioinformatika.

Dalam kompetisi tersebut, Fakultas Kedokteran Hewan UGM tergabung dalam Tim “Theranova”, sebuah tim kolaboratif lintas perguruan tinggi yang terdiri dari mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Andalas, dan Universiti Malaya. Fakultas Kedokteran Hewan UGM diwakili oleh dua mahasiswa, yaitu Raditia Luki Ananta dan Evelyn Hartono.

 

Di bawah bimbingan Dosen Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr.rer.nat. apt. Adam Hermawan, M.Sc., tim ini mempresentasikan riset mendalam berjudul “Rekayasa Chimeric Lipid Nanoparticle Difungsionalisasi dengan Di-Rhamnolipid untuk Penghantaran Selektif PGV-1 pada Sel Triple Negative Breast Cancer”. Riset ini berfokus pada pengembangan sistem penghantaran obat berbasis pemodelan Chimeric Lipid Nanoparticle. Inovasi utama terletak pada pemanfaatan biosurfaktan di-Rhamnolipid sebagai kunci utama untuk meningkatkan selektivitas dan efisiensi penghantaran molekul kecil PGV-1, kandidat agen antikanker, khususnya pada sel Triple Negative Breast Cancer (TNBC). Lipid nanoparticle chimeric ini dirancang dengan integrasi di-rhamnolipid untuk targeting spesifik sel TNBC, yang sulit diobati karena agresivitasnya tinggi dan kurangnya target terapi konvensional. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan presisi terapi sekaligus meminimalkan efek samping sistemik.

Kompetisi BIOS 2025 berlangsung melalui rangkaian seleksi ketat sejak Agustus hingga November 2025. Tahapan dimulai dari pengajuan abstrak, pengembangan website proyek sebagai sarana showcase project, hingga pemenuhan target luaran yang ditentukan. Pada babak final, Tim Theranova mempresentasikan inovasi mereka di hadapan dewan juri. Keunggulan dalam perumusan konsep, kedalaman analisis bioinformatika, serta kekuatan metodologi menjadi faktor penentu keberhasilan tim dalam meraih medali perunggu.

Raditia Luki Ananta, selaku ketua tim Theranova, menuturkan, “Kami akan melanjutkan penelitian ini lebih lanjut bersama Prof. Dr.rer.nat. apt. Adam Hermawan, M.Sc. dan juga BRIN untuk mengembangkan prototipe yang siap uji praklinis.” Evelyn Hartono menambahkan, “Kolaborasi dengan BRIN ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat translasi riset dari laboratorium ke aplikasi klinis nyata, khususnya dalam terapi TNBC.” Pernyataan keduanya mencerminkan komitmen tim terhadap inovasi berkelanjutan yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Prestasi ini mencerminkan wujud nyata kontribusi akademisi dalam mendukung target pembangunan berkelanjutan global atau Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas dan nomor 17, tentang kemitraan untuk mencapai tujuan. Melalui inovasi pengobatan TNBC, riset ini berupaya memberikan solusi terapeutik yang lebih efektif dan aman bagi penderita kanker payudara, serta berkontribusi pada penurunan angka kematian akibat penyakit tidak menular melalui kemajuan teknologi farmasi (SDG no 3). Keberhasilan ini mencerminkan kualitas pendidikan tinggi yang mampu mengintegrasikan pembelajaran berbasis riset dan inovasi. Partisipasi dalam kompetisi internasional memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh secara teoritis ke dalam praktik, khususnya dalam bidang bioinformatika dan biologi molekular tingkat lanjut (SDG no 4). Selain itu, kolaborasi multidisiplin dari berbagai institusi, yaitu UGM, UI, UB, UNAND, dan Universiti Malaya, serta dukungan aktif dari dosen pembimbing, menunjukkan sinergi yang menjadi contoh implementasi kerjasama strategis lintas institusi dalam menghasilkan inovasi yang berpotensi memberikan dampak luas bagi masyarakat (SDG no 17).Lihat   Selengkapnya

Indonesia membutuhkan regulasi untuk menjamin Kesejahteraan Hewan dan Masyarakat

BeritaSorotan Minggu, 1 Februari 2026

Bertempat di Cityloog Hotel, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu, 31 Januari 2026, telah berlangsung Seminar Sehari mengenai Sosialisasi Regulasi Kesejahteraan Hewan & Penguatan Pendidikan serta Pelayanan Kedokteran Hewan di Indonesia.
Seminar yang dihadiri oleh para pemilik klinik hewan, Ketua Unit Peminatan Non Teritorial PB PDHI, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI, Dokter Hewan praktisi, Lembaga Swadaya Masyarakat penggiat kesejahteraan Hewan, serta komunitas penyayang Hewan itu, menampikan tiga (3) pembicara berbobot yang ahli dibidangnya.
“Hewan, selalu diposisikan sebagai benda dagang, diabaikan sebagai makhluk hidup, padahal penting bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia, sehingga salah urus dan menimbulkan bencana”, kata drh Wiwiek Bagdja, mantan Ketua Umum Pengurus Besar PDHI dan juga pemerhati kesejahteraan hewan diawal paparannya.
Kesejahteraan Hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Hal ini berarti bila hewan dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai kepentingan, wajib memenuhi segala unsur kesejahteraan hewan yang berada dalam penguasaannya. Ditekankan oleh drh Hastho Yulianto, MM dalam presentasinya menyampaikan; “Penerapan kesejahteraan hewan diberlakukan kepada pemilik hewan, orang yang menangani hewan sebagai bagian dari pekerjaannya dan pemilik fasilitas pemeliharaan hewan” Kesejahteraan Hewan telah menjadi perhatian publik baik nasional maupun internasional dan bahkan menjadi persyaratan internasional dalam perdagangan hewan hidup maupun produk hewan. Dalam rangka penjaminan pelaksanaan pemenuhan Kesejahteraan Hewan dan berdasar aturan perundang-undangan yang berlaku maka telah terbit Peraturan Menteri Pertanian RI No. 32 tahun 2025 Tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Peraturan ini diharapkan menjadi pedoman bagi seluruh masyarakat dan juga penyelenggara pemerintahan agar dapat memahami dan melaksanakan pemenuhan Kesejahteraan Hewan.
Meningkatnya tingkat kepemilikan hewan oleh masyarakat untuk berbagai manfaat serta kesadaran dan kepedulian terhadap Kesejahteraan Hewan perlu adanya aturan yang mampu memberi arah sehingga kesadaran dan kepedulian tersebut berada dalam koridor yang benar.
Memahami kesejahteraan hewan bukanlah sesuatu yang mudah, dibutuhkan landasan pengetahuan yang kokoh serta pengalaman langsung sehingga sosialisasi pemahaman yang benar sangat dibutuhkan agar tidak terjadi penyimpangan pemahaman serta dalam pelaksanaannya oleh setiap lapisan masyarakat. Tidak sedikit terjadi kesalah-pahaman publik dalam memahami atau menilai kesejahteraan hewan, ada pula yang memanfaatkannya untuk tujuan yang tidak pantas maka Peraturan Menteri Pertanian No. 32 tahun 2025 ini menjadi aturan yang penting untuk dipahami secara keseluruhan sehingga dapat meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

“Berdasarkan latar belakang itulah mengapa Seminar ini sangat tinggi urgensinya untuk segera diadakan diawal tahun 2026. Oleh karena itu PDHI cab DKI Jakarta memfasilitasi para pihak untuk bisa mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya dengan jelas. Dan para peserta seminar ini sama sekali tidak dipungut biaya”, ungkap drh. Kumaladewi, MFSc (Sekretaris PDHI cabang DKI Jakarta) selaku ketua panitia acara seminar tersebut.
Dalam Kesejahteraan Hewan tentu tidak bisa meninggalkan status kesehatan hewan karena kedua hal ini merupakan satu kesatuan yang utuh dan bahkan status kesehatan hewan itu sendiri menjadi parameter status Kesejahteraan Hewan. Tujuan utama kesejahteraan hewan adalah kualitas hidup, dimana kualitas hidup hewan tersebut berhubungan dengan pengalaman mental hewan. Kesehatan merupakan aspek penting dalam kesejahteraan hewan, karena adanya penyakit atau cedera menimbulkan perasaan tidak nyaman seperti rasa sakit, kebingungan dan tertekan yang adalah kondisi mental hewan.
Hewan mengalami kesejahteraan yang baik jika hewan itu sehat, nyaman, bergizi baik, aman, tidak menderita keadaan yang tidak menyenangkan, seperti: rasa sakit, ketakutan dan tertekan, dan mampu mengekspresikan perilaku yang penting bagi kondisi fisik serta mental hewan tersebut. Kesejahteraan hewan yang baik membutuhkan: pencegahan penyakit dan perawatan hewan yang tepat, tempat tinggal, manajemen dan nutrisi, lingkungan yang menstimulasi positif dan aman, serta penanganan yang manusiawi dan penyembelihan atau pemotongan hewan yang manusiawi.
Untuk menjaga status kesehatan hewan tetap sehat yang berujung pada status sejahtera kesejahteraan hewan, membutuhkan kerjasama berbagai pihak mulai dari pemilik, perawat dan dokter hewan. Kerjasama ini sangat menentukan dalam menilai status kesejahteraan hewan.
Tugas dokter hewan adalah mendampingi pemilik, perawat dan berbagai pihak yang terlibat dalam pemeliharaan hewan agar dapat menjaga status sehat dan kesejahteraan hewan terpenuhi. Selain menjaga atau mencegah, dokter hewan juga bertugas memulihkan kesehatan hewan sehingga dapat kembali sehat. Tugas yang diemban dokter hewan ini tentu tidak serta merta dilaksanakan tanpa ada pengetahuan dan tanggung jawab yang kuat. Seluruh tugas yang diemban dilaksanakan berdasarkan kompetensi yang telah diperoleh melalui pendidikan yang panjang dan berat.
Di Indonesia pendidikan Kedokteran Hewan telah berdiri lebih dari 100 tahun yang lalu pada zaman pemerintahan kolonial Belanda dimana pada saat itu telah terjadi beberapa wabah yang mengakibatkan penyakit pada hewan yang merupakan sumber bahan sandang, pangan dan kerja bagi militer, transportasi serta pertanian. Kebijakan mendirikan pendidikan Kedokteran Hewan di Indonesia ditujukan untuk membantu pemerintah kolonial untuk menjaga rantai pasok bahan pangan serta yang lainnya yang memanfaatkan hewan.
Akan tetapi hingga saat ini tidak ada satu regulasi pun yang mengayomi Pendidikan Kedokteran Hewan ini termasuk regulasi yang mengatur layanan Kedokteran Hewan. Regulasi tersebut sangat penting untuk memastikan jaminan layanan kepada masyarakat dan negara agar penjagaan kesehatan dan kesejahteraan hewan dapat dipertanggungjawabkan.
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. drh. Teguh Budipitojo, Ph.D, menjelaskan lebih jauh; “Meskipun Indonesia telah memiliki regulasi terkait pendidikan tinggi, peternakan dan kesehatan hewan, satwa liar, serta satwa akuatik, hingga saat ini belum terdapat undang-undang yang secara khusus dan terintegrasi mengatur pendidikan profesi dan layanan kedokteran hewan (UU Kedokteran Hewan). Pengaturan yang ada bersifat sektoral dan berorientasi pada hewan produksi, konservasi, dan perikanan, sementara layanan kedokteran hewan untuk hewan kesayangan (companion animals) belum memiliki dasar hukum
yang memadai. Akibatnya, pengaturan profesi dokter hewan terfragmentasi, berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan kesenjangan mutu layanan. Oleh karena itu, UU Kedokteran Hewan diperlukan sebagai lex specialis untuk menjamin mutu pendidikan, standar layanan, sistem registrasi dan perizinan praktik, serta pembinaan profesi melalui Veterinary Statutory Body, sekaligus memperkuat pendekatan One Health dalam kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.”
Mengingat hal tersebut Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia telah mengajukan Rancangan Undang-Undang tentang Pendidikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat RI dan telah masuk ke dalam Program Legislasi Nasional tahun 2019 – 2024. Akan tetapi hingga berakhirnya periode tersebut RUU tersebut tidak kunjung
dibahas di DPR RI. Maka pada periode berikutnya tahun 2024 – 2029 diajukan kembali RUU Pendidikan Dan Layanan Kedokteran Hewan dengan harapan segera mendapat perhatian untuk dibahas. Namun hingga kini belum menjadi prioritas.
Oleh karena itu melalui seminar ini diharapkan dukungan masyarakat agar dapat mendorong para wakil rakyat untuk segera menetapkan RUU Pendidikan dan Layanan Kedokteran Hewan menjadi prioritas tahunan sehingga dapat memberikan kepastian hukum bagi berbagai pihak terkait, untuk bisa bekerja dalam perlindungan hukum. Hal inipun langsung ditegaskan sejak awal seminar oleh drh. MTh. Widiastuti, Ketua PDHI cab DKI Jakarta dalam sambutannya, ”Dokter Hewan selaku profesi yang terikat secara professional dengan kompetensi yang melekat, perlu mendapatkan dukungan regulasi veteriner dari negara terkait erat dengan penyelenggaraan kesehatan dan kesejahteraan hewan “

Kegiatan ini didukung oleh Sustainable Development Goals antara lain SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang bertanggung jawab, dan SDG 17: Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan.Lihat   Selengkapnya

Jumat Sehat di FKH UGM

Berita Jumat, 5 Desember 2025

Setiap hari Jum’at pagi, dimulai pukul 07.00 pagi, civitas akademika FKH UGM mengadakan senam bersama. Kegiatan ini diikuti oleh tendik, dosen, dan mahasiswa yang kebetulan tidak ada jadwal pada jam tersebut. Dipadu oleh instruktur profesionial, biasanya senam berjalan selama kurang lebih 1 jam. Senam dilakukan di halaman Gedung Diagnostik FKH UGM.

Olahraga ini bertujuan untuk memfasilitasi tendik, dosen, maupun mahasiswa FKH untuk dapat berkegiatan olahraga disela-sela kegiatan rutin yang Sebagian besar dilakukan dengan duduk di depan computer. Waktu duduk yang lama (lebih dari 5 jam setiap hari) dan menghadap layar komputer terus menerus mempunyai berbagai resiko kesehatan tersendiri, termasuk sakit punggung dan postur tubuh yang buruk, hingga obesitas karena gaya hidup yang idak baik dan kurang bergerak. Maka, kegiatan senam merupakan pilihan yang tepat untuk mendorong para pekerja berolahraga diiringi gerakan dan music yang menghibur.

Para peserta senam, selalu dihimbau untuk membawa botol minum masing-masing selama berolahraga sehingga tidak menambah sampah plastik di lingkungan fakultas. Faktor lain yang mendorong para pekerja untuk ikut senam bersama adalah makan pagi bergizi gratis yang disediakan oleh fakultas. Biasanya berupa buah segar yang kaya akan vitamin untuk dinikmati setelah senam.

Selain itu, setiap 3 bulan sekali, FKH UGM juga mengadakan cek kesehatan gratis dan donor darah. Program ini bekerja sama dengan Ruma Sakit Akademik UGM, dan diadakan di Gedung Auditorium. Acara dimulai dengan materi atau topik seputar kesehatan, diskusi, kemudian peserta dipersilahkan untuk mengecek kesehatan seperti cek kolestrol, asam urat, dan gula darah. Bagi yang ingin donor darah juga dipersiapkan oleh tim medis yang bertugas. Setiap hari Jum’at, fakultas juga menyediakan jasa konseling dengan psikolog dimulai dari pukul 2 siang. Semua civitas academica UGM dapat berkonsultasi secara gratis.

Hal-hal tersebut dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab fakultas untuk memastikan, dan meningkatkan kualitas kesehatan para pekerja dan mahasiswa di FKH UGM secara fisik, maupun secara mental. Kegiatan ini mendukung beberapa point Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs 2 tanpa kelaparan, SDGs 3 Kesehatan dan Kehidupan Sejahtera, SDGs 4 Pendidikan Berkualitas, dan SDGs 17 Kerjasamanya untuk mencapai tujuanLihat   Selengkapnya

Pengabdian Masyarakat Nasional IMAKAHI 2025 “Membangun Pengabdian, Satrabakti Wujudkan Aksi”

Kegiatan MahasiswaSorotan Selasa, 2 Desember 2025

Pengabdian Masyarakat Nasional (PENGMASNAS) IMAKAHI 2025 merupakan rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia Cabang Universitas Gadjah Mada di Kalurahan Getas, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Jumat-Minggu, 21-23 November 2025. PENGMASNAS IMAKAHI 2025 mengusung tema “Satunggaling Laku, Satunggaling Rasa” yang diikuti oleh 80 orang delegasi atau ‘Satra’ yang merupakan mahasiswa kedokteran hewan dari 12 universitas di seluruh Indonesia.

Kegiatan dimulai pada hari Jumat, 21 November 2025 di Auditorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada dengan Opening Ceremony yang dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan Himne Gadjah Mada, Himne IMAKAHI, dan Mars IMAKAHI. Kegiatan diawali dengan dengan penampilan tari Retno Asri, selanjutnya sambutan ketua panitia, Diva Pendriana, sambufftan drh. Retno Widyastuti sebagai Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, serta sambutan dan simbolis pembukaan oleh Wakil Dekan FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si.
Setelah rangkaian Opening Ceremony usai, para Satra diantarkan menuju Teaching Farm Playen. Di Teaching Farm, Satra dibagi menjadi 3 pos untuk mendapatkan Pelatihan Yanduan dari drh. Woro Danur Wendo, M.Sc., Dr. drh. Vincentia Trisna Yoelinda, M.Si., dan drh. Rina Wijayanti mengenai tata laksana pemeriksaan dasar kesehatan ternak sapi dan kambing. Pelatihan Yanduan dilaksanakan guna memperkaya pengetahuan, sejalan dengan SDGs 4 ‘Pendidikan Berkualitas’ yang menegaskan bahwa pembelajaran yang inklusif dan kolaboratif diperlukan untuk memberi kesempatan yang sama bagi setiap mahasiswa untuk mendapat pengetahuan dasar mengenai ternak sebelum terjun ke lapangan.

Selepas belajar bersama, seluruh Satra mengikuti kegiatan Guyub Sesrawungan di Balai Kalurahan Getas bersama warga setempat, yang dibuka dengan sambutan Bapak Saekat selaku Kepala Kalurahan Getas, penampilan drama delegasi oleh kelompok 7 dan dimeriahkan dengan kuis tanya jawab mengenai drama yang telah ditampilkan. Rangkaian Guyub Sesrawungan ditujukan untuk mengawali hubungan baik antara PENGMASNAS IMAKAHI 2025 dengan Kalurahan Getas yang juga mengimplementasikan SDGs 17 ‘Kemitraan untuk Mencapai Tujuan’. Hari semakin malam, Satra dibagi menjadi 11 kelompok dan diantarkan menuju rumah huni yang berada di 6 dukuh, yakni Padukuhan Getas, Padukuhan Tanjung, Padukuhan Ngasem, Padukuhan Gubuk Rubuh, Padukuhan Ngrunggo, dan Padukuhan Gembuk untuk beristirahat.

Kegiatan hari kedua pada Sabtu, 22 November 2025 diawali dengan persiapan Satra di rumah huni masing-masing, kemudian setiap kelompok mengikuti briefing singkat mengenai Medical Check Up atau biasa dikenal Yanduan bersama 11 orang Supervisor yang merupakan dokter hewan dan paramedis veteriner dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul serta UPT Puskeswan Playen, juga bersama beberapa mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan FKH UGM. Yanduan dilaksanakan terpisah menjadi 11 titik di 6 padukuhan dengan didampingi seorang warga setempat yang menjadi pemandu jalan. Pada setiap titik, 20 ekor ternak sapi atau kambing dipantau kesehatannya dengan pemeriksaan umum seperti pengecekan suhu, kebuntingan, auskultasi, serta pemberian vitamin B, obat cacing, dan vaksinasi bersyarat. Yanduan merupakan upaya mengimplementasikan aspek One Health juga SDGs 3 ‘Kehidupan Sehat dan Sejahtera’ dengan meningkatkan kesejahteraan hewan melalui pemeriksaan kesehatan serta pemberian vitamin, obat, dan vaksinasi sebagai awal pencegahan penyakit zoonosis.

Bersamaan dengan Yanduan, panitia melaksanakan kegiatan bakti sosial guna membantu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalurahan Getas yang membutuhkan. Dengan bakti sosial, PENGMASNAS IMAKAHI 2025 berupaya mewujudkan SDGs 1 ‘Menghapus Kemiskinan’ dan SDGs 2 ‘Mengakhiri Kelaparan’ yakni mengurangi beban ekonomi warga dengan mendistribusikan paket sembako bagi 10 warga di setiap padukuhan yang kurang sejahtera.
Pada malam hari, Satra dari berbagai dukuh diarahkan menuju tiga titik Penyuluhan dan Workshop, yaitu di rumah Kepala Dukuh Ngasem, rumah Kepala Dukuh Tanjung, dan rumah Kepala Dukuh Ngrunggo. Acara dibuka oleh MC di tiap lokasi dan dilanjut dengan penyuluhan mengenai Manajemen Kandang dan Lingkungan oleh drh. Agus Riyanto, drh. Wivqie Halum, dan drh. Nurwahyudi, S.Pt. Materi yang disampaikan mencakup prinsip-prinsip dasar pengelolaan kandang. Selama kegiatan berlangsung, warga aktif bertanya dan berdiskusi mengenai masalah kandang yang dihadapi.

Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan Workshop pakan tambahan berbasis molases dan mineral bernama UMMB (Urea Molasses Mineral Block). Selama kegiatan, Satra mendampingi warga dalam proses pencampuran bahan, pengadukan, pencetakan, hingga penjelasan manfaat UMMB guna meningkatkan produktivitas ternak. Workshop berlangsung interaktif dan memberikan wawasan praktis yang dapat langsung diterapkan warga dalam kegiatan beternak. Suksesnya kegiatan Penyuluhan dan Workshop menunjukkan bahwa SDGs 12 ‘Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab’ terwujud dengan terbarukannya pengetahuan warga mengenai tata kelola pakan dan kandang guna meningkatkan efisiensi produksi ternak di Kalurahan Getas.

 

Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan hari kedua PENGMASNAS IMAKAHI 2025 berjalan lancar dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan ternak melalui Yanduan, edukasi melalui Penyuluhan, serta praktik langsung dalam Workshop UMMB menjadi pengalaman bermakna bagi warga dan Satra. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini memperkuat kompetensi delegasi sebagai calon dokter hewan yang siap terjun ke dunia profesi. Kegiatan hari kedua ditutup dengan suasana penuh kehangatan, kolaborasi, dan harapan agar ilmu yang dibagikan dapat terus bermanfaat bagi masyarakat Kalurahan Getas.
Kegiatan hari ketiga PENGMASNAS 2025 diawali dengan Senam dan Sarapan bersama yang diikuti oleh seluruh delegasi dan beberapa warga lokal. Senam dan Sarapan dibagi ke dalam tiga lokasi yang sama seperti lokasi Penyuluhan dan Workshop. Senam yang dipimpin oleh panitia berhasil mencairkan suasana dan mempererat tali silaturahmi, sehingga baik warga, Satra, dan panitia terlihat menikmati kegiatan tersebut dengan antusias. Seusai sarapan, peserta melanjutkan kegiatan bersih-bersih dan berkemas di rumah huni untuk persiapan menuju Closing Ceremony.

Seluruh Satra berkumpul di Balai Kalurahan untuk mengikuti Closing Ceremony. Acara ini dibuka dengan sambutan oleh Penanggung Jawab PC IMAKAHI, Aprilia Ipon, dilanjutkan sambutan Ketua Umum PB IMAKAHI, Briliani Sekar Utami dan sambutan terakhir oleh Kepala Kalurahan Getas, Bapak Saekat. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian kesan dan pesan dari Satra, pemberian sertifikat, serta penyerahan bibit tanaman mangga sebagai tanda kenangan dan harapan keberlanjutan kegiatan. Pemberian ini mewujudkan SDGs 15 ‘Menjaga Ekosistem Darat’ dengan upaya melestarikan lingkungan melalui penanaman pohon. Rangkaian acara diakhiri dengan foto bersama. Setelah Closing Ceremony selesai, Satra diantarkan kembali menuju FKH UGM untuk mengikuti Bonding dan makan bersama. Bonding ditutup dengan pemutaran mini after movie PENGMASNAS IMAKAHI 2025 dan penutupan resmi oleh MC.
Usai Bonding, beberapa Satra melanjutkan kegiatan “Jogja Istimewa” berupa kunjungan ke destinasi budaya di Yogyakarta, Museum Sonobudoyo dan Museum Benteng Vredeburg. Sementara itu, Satra yang tidak mengikuti kegiatan Jogja Istimewa diarahkan panitia menuju stasiun terdekat untuk kepulangan. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dipilih sebagai destinasi wisata yang menghadirkan kisah perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sehingga memberikan pengalaman edukatif yang mendalam bagi pengunjung. Sementara itu, Museum Sonobudoyo dengan koleksi budaya dan arkeologi yang sangat beragam memberikan suasana hangat dan sarat nilai budaya, sehingga memperkaya wawasan Satra mengenai sejarah dan kearifan lokal Yogyakarta. Kedua kunjungan ini mengimpelentasikan SDGs 11 ‘Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan’ yang mendukung keberlanjutan komunitas dengan peningkatan kesadaran akan pelestarian warisan budaya dan alam dunia. Kegiatan hari ketiga ditutup dengan pengantaran para delegasi ke stasiun setelah selesai mengikuti rangkaian Jogja Istimewa. Rangkaian kegiatan PENGMASNAS IMAKAHI 2025 sukses mewujudkan program kerja yang berkelanjutan, bermanfaat, dan inklusif melibatkan peran dokter hewan serta calon dokter hewan dalam mengimplementasikan ‘Manusya Mriga Satwa Sewaka’ melalui pengabdian pada masyarakat Kalurahan Getas, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pembukaan PENGMASNAS IMAKAHI 2025
Tari Retno Asri
Pembukaan
Simbolis Pembukaan oleh Wakil Dekan
Sambutan DPKH Gunungkidul
Pelatihan Yanduan di Teaching Farm Playen
Pelatihan Yanduan di Teaching Farm Playen
Senam dan Sarapan Bersama
Yanduan
Drama
Yanduan
Yanduan
Yanduan
Yanduan
Yanduan 1
Bakti Sosial
Penyuluhan
Pelatihan Yanduan di Teaching Farm Playen
Sambutan Guyub Sesrawungan oleh Lurah Getas
Kunjungan Museum Benteng Vredeburg dan Museum Sonobudoyo
Workshop UMMB
Workshop UMMB
IMG_4730
Bonding
Bonding
Senam dan Sarapan Bersama
Senam dan Sarapan Bersama
Penyuluhan
Closing Ceremony

Lihat   Selengkapnya

KSSL Gelar Seminar Nasional Satwa Liar mengenai Kakatua

BeritaKegiatan MahasiswaSeminar Rabu, 29 Oktober 2025

Hari Minggu, 28 September 2025 bertempat di ruang Auditorium FKH UGM, Kelompok Studi Satwa Liar FKH UGM telah menyelenggarakan Seminar Nasional Satwa Liar yang mengangkat spesies Kakatua dengan tema “Voices of the Cockatoo, Echoes of the Wild: Safeguarding Health and Preserving the Guardians of the Forest”. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan Kakatua Maluku sebagai satwa liar endemik Indonesia kepada masyarakat, meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai status Kakatua Maluku sebagai spesies yang terancam punah, memberikan pemahaman masyarakat tentang pentingnya upaya konservasi, menambah wawasan masyarakat mengenai dampak dari perburuan Kakatua Maluku, serta membahas secara garis besar peran pemerintah, LSM, dokter hewan dan masyarakat umum dalam upaya konservasi kakatua. Rangkaian kegiatan dimulai dengan opening ceremony yang dibuka oleh MC lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne Gadjah Mada, penampilan tari tradisional, sambutan ketua Seminar Nasional Kakatua 2025 oleh saudari Carrissa Putri Amelia, sambutan ketua KSSL FKH UGM 2025 oleh saudara Dave Timothy Halim, sambutan ketua BEM FKH UGM 2025 oleh saudara Achmad Burhanudin Rabbani, sambutan pembina KSSL FKH UGM oleh Prof. Dr. drh. Raden Wisnu Nurcahyo, sambutan ketua Dies Natalis FKH UGM 2025 oleh drh. Setyo Yudhanto, M.Sc., Ph.D., sambutan perwakilan dekanat oleh Prof. drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D., dan simbolis pembukaan Seminar Nasional Kakatua 2025 dengan pemukulan gong. Sebelum sesi seminar dimulai, dilakukan pembacaan urgensi diadakannya Seminar Nasional Kakatua 2025 oleh MC dan dilanjut dengan pretest. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penayangan teaser Seminar Nasional Kakatua 2025. Seminar sesi pertama dimoderatori oleh saudara drh. Adimas Oky Saputra dan materi dibawakan oleh Dr. drh. Ligaya I. T. A. Tumbelaka, Sp. Mp., M.Sc. yang merupakan dokter hewan yang berfokus pada satwa liar dan memiliki keahlian di bidang biologi reproduksi serta endokrinologi hewan. Pembicara sesi pertama membawakan materi mengenai “Integrating Moluccan cockatoo Health Into a One Health Approach to Safeguard the Health of Wildlife, Humans, and the Environment” selama 60 menit. Secara garis besar, materi yang dibawakan mengenai fakta hidup kakatua, jenis kakatua di Indonesia, status konservasi, lembaga konservasi ex situ, tugas dan fungsi tim medis di lembaga konservasi, pemeliharaan satwa liar di lembaga konservasi, dan perilaku rutinitas harian kakatua di alam liar. Melalui sesi ini, diharapkan dapat meningkatkan jiwa konservasi peserta mengenai Kakatua Maluku yang terancam punah. Setelah sesi materi selesai, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang kemudian ditutup dengan penyerahan plakat kepada Dr. drh. Ligaya I. T. A. Tumbelaka, Sp. Mp., M.Sc. sebagai pembicara dan drh. Adimas Oky Saputra sebagai moderator sesi pertama. Rangkaian selanjutnya, yaitu ice breaking yang dibawakan oleh MC sebelum masuk ke sesi kedua. Sesi kedua dimoderatori oleh saudari Maria Amanda Dominica Theqla S.K.H., dengan pembicara drh. Nadhifa Trihapsoro yang membawakan tema “Exploring the role of the Moluccan cockatoo as an ‘Umbrella Species’ whose Protection Safeguards Hundreds of other Endemic Species“. Materi yang dibawakan oleh pembicara kedua secara garis besar berisi tentang peran dan kolaborasi antara masyarakat lokal dengan konservasi dalam pelestarian konservasi Kakatua Maluku, pengetahuan tradisional dan mitos yang tersebar di masyarakat lokal mengenai Kakatua Maluku, kesadaran masyarakat lokal mengenai konservasi Kakatua Maluku, pengaruh perubahan lingkungan terhadap habitat kakatua di Maluku, peran Kakatua Maluku sebagai penjaga kelestarian hutan dan satwa-satwa lain di dalamnya, serta pengalaman pribadi pembicara dalam konservasi kakatua di Indonesia. Sesi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya konservasi Kakatua Maluku dan peranannya dalam menjaga kelestarian hutan dan satwa lainnya. Setelah kedua pembicara selesai menyampaikan materi, acara dilanjutkan dengan sesi post test mengenai materi yang telah disampaikan. Peraih pre test dan post test dengan tiga nilai tertinggi akan diumumkan dan mendapatkan hadiah. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi Small Group Discussion dimana peserta dibagi menjadi 5 kelompok yang berjumlah 9 – 10  orang dan dipandu oleh 2 orang panitia tiap kelompok. Sebelum sesi Small Group Discussion dilakukan, sesi diawali dengan perkenalan antar anggota kelompok, lalu dilanjut dengan pembacaan skenario. Setelah skenario dibacakan setiap anggota kelompok menyampaikan pendapatnya masing-masing dalam kelompoknya mengenai skenario yang didapat selama 30 menit. Setelah waktu selesai, peserta dipersilahkan untuk membacakan hasil diskusi, pembicara dapat memberikan tanggapan mengenai pendapat yang telah disampaikan. Selanjutnya, dilakukan sesi workshop dengan 5 pos di area Fakultas Kedokteran Hewan UGM berupa pembuatan enrichment untuk meningkatkan kesejahteraan satwa. Setelah sesi workshop selesai dilakukan, para peserta kemudian kembali ke ruang Auditorium FKH UGM dan dilanjutkan dengan sesi kesan pesan oleh peserta, penutupan, dan dokumentasi. Kegiatan Seminar Nasional Kakatua 2025 telah selesai untuk peserta umum. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan sesi istirahat, sholat, dan makan bagi anggota Chelonia. Chelonia merupakan gabungan dari kelompok studi yang berfokus pada satwa liar. Setelah sesi istirahat, kegiatan dilanjut dengan Gathering Chelonia yang dihadiri oleh anggota Chelonia dari berbagai universitas, seperti Universitas Brawijaya, Universitas Udayana, Universitas Airlangga, Universitas Wijaya Kusuma, dan Institut Pertanian Bogor. Gathering Chelonia dilaksanakan di Selasar Auditorium FKH UGM. Acara dimulai dengan pembukaan oleh MC, sambutan ketua KSSL FKH UGM, dilanjutkan dengan sesi mini games. Setelah selesai, dilanjutkan dengan penayangan video profil dari seluruh Chelonia, seperti pengenalan organisasi dan video program kerja dari masing masing Chelonia. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan kegiatan bonding untuk anggota Chelonia seperti perkenalan dan sharing mengenai proker yang dilakukan tiap kelompok studi. Acara Gathering Chelonia ditutup dengan closing dari MC dan sesi dokumentasi. Kegiatan Seminar Nasional Kakatua dihadiri oleh 99 peserta yang terdiri dari mahasiswa kedokteran hewan dan mahasiswa umum dari berbagai universitas, dokter hewan, serta masyarakat umum. Melalui kegiatan Seminar Nasional Kakatua 2025 ini, diharapkan peserta dapat lebih mengetahui mengenai kakatua yang terancam punah yang sesuai dengan poin Sustainable Development Goals poin ke-4 yaitu Pendidikan Bermutu atau Quality Education, mengetahui permasalahan yang terjadi sehingga dapat mengetahui aksi nyata yang dapat dilakukan dalam upaya konservasi kakatua yang sesuai dengan poin ke-15 yaitu Menjaga Ekosistem Darat atau Life on Land, serta mengetahui peran pemerintah, LSM, dokter hewan dan masyarakat umum dalam upaya konservasi kakatua yang sesuai poin ke-17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan atau Partnership for The Goals.
SEMNAS KSSL 1
SEMNAS KSSL 2
SEMNAS KSSL 3
SEMNAS KSSL 4
SEMNAS KSSL 5
SEMNAS KSSL 6
SEMNAS KSSL 7
SEMNAS KSSL 8
Lihat   Selengkapnya

Tim PKM UGM Kaji Potensi Ekstrak Daun Rosemary sebagai Pelindung Ginjal (Nefroprotektif) untuk Atasi Progresivitas Gagal Ginjal Akut

BeritaKegiatan MahasiswaPenelitian Jumat, 17 Oktober 2025

Yogyakarta –  Salah satu tim mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang beranggotakan lima mahasiswa terlibat dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE)  mengkaji penelitian penting mengenai potensi alamiah dari ekstrak daun rosemary (Rosmarinus officinalis L.). Fokus riset ini adalah menyelidiki peran ekstrak tersebut sebagai agen nefroprotektif yang diharapkan mampu memperlambat progresivitas kondisi Gagal Ginjal Akut (GGA). Relevansi klinis dari penelitian ini sangat tinggi, mengingat hingga saat ini penanganan GGA mayoritas hanya berpegang pada terapi suportif. Belum tersedia intervensi farmakologis spesifik yang bekerja langsung menghambat atau membalikkan kerusakan pada jaringan ginjal.

Randika Taufiq Hari Nugraha, selaku ketua tim peneliti, menekankan bahwa GGA merupakan kondisi klinis darurat dengan risiko mortalitas yang tinggi jika tidak ditangani dengan segera. “Strategi penanganan saat ini lebih terfokus pada mitigasi gejala dan komplikasi. Oleh karena itu, riset kami berupaya mencari solusi melalui bahan alam yang terbukti memiliki kemampuan proteksi terhadap sel-sel ginjal,” jelasnya. Riset multidisiplin ini melibatkan anggota tim lainnya, yaitu Artha Maressa Theodora Simanjuntak, Frengki Prabowo Saputro Wijayanto, Devi Vita Sari, dan Evelyn Hartono. Mereka dibimbing oleh dr. Nur Arfian, Ph.D. dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM.

Devi Vita Sari memaparkan bahwa daun rosemary kaya akan senyawa bioaktif utama, seperti asam rosmarinat dan kuersetin, yang dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi kuat. Senyawa-senyawa ini diperkirakan dapat memberikan efek perlindungan pada ginjal dengan cara mereduksi stres oksidatif dan mencegah pembentukan kristal kalsium oksalat. “Melalui serangkaian uji laboratorium, termasuk Spektrofotometri UV-Vis, Kromatografi Lapis Tipis (KLT), dan pengujian antioksidan metode DPPH, kami berhasil mengonfirmasi tingginya kandungan fenolik dan flavonoid yang mendasari aktivitas proteksi ginjal ini,” imbuhnya.

Artha Maressa Theodora Simanjuntak menambahkan bahwa hasil pengujian menunjukkan korelasi yang jelas antara profil fitokimia yang teridentifikasi dengan aktivitas biologis ekstrak rosemary. “Kandungan bioaktif ini terbukti secara efektif menekan stres oksidatif, yang merupakan mekanisme kunci pemicu kerusakan selular pada organ ginjal,” paparnya.

Sementara itu, Evelyn Hartono menyoroti pentingnya menggabungkan berbagai disiplin ilmu dalam riset bahan alam. “Kami berharap penelitian ini dapat menjadi fondasi saintifik untuk mengembangkan opsi terapi alternatif yang lebih aman, terjangkau, dan efektif dalam manajemen Gagal Ginjal Akut di masa depan,” kata Evelyn.

Lebih lanjut, Frengki Prabowo Saputro Wijayanto menyatakan harapan agar temuan ini dapat berkontribusi pada upaya pengembangan obat herbal terstandar dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia. “Langkah krusial berikutnya adalah melakukan uji praklinis untuk menguji kelayakan ekstrak rosemary sebagai kandidat fitofarmaka,” pungkasnya.

Penelitian yang didukung oleh pendanaan Simbelmawa ini tidak hanya menyumbang kemajuan di bidang biomedis dan farmasi, tetapi juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) 3: Good Health and Well-being, melalui pengembangan intervensi terapeutik yang berpotensi menurunkan morbiditas akibat penyakit ginjal, SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure yang ditunjukkan dengan penelitian yang menggunakan ekstrak bahan alami yang dapat menghasilkan produk farmasi baru atau terapi alternatif, SDG 12 : Responsible Consumption and Production melalui ekstrak daun rosemary sebagai obat berbasis bahan alam yang ramah lingkungan, dan SDG 15: Life on Land yang ditunjukkan dengan pemanfaatan daun rosemary yang dijadikan ekstrak untuk agen nefroprotektif .Lihat   Selengkapnya

FKH Selenggarakan Pengembangan Tenaga Kependidikan 2025 di Tawangmangu

Berita Jumat, 12 September 2025

Karanganyar, 22 Agustus 2025. Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta memperkuat budaya kerja yang sehat, profesional, dan berintegritas, FKH UGM

Lihat   Selengkapnya

The 79th Anniversary of the Faculty of Veterinary Medicine UGM Began with Yogyakarta Andong Festival

BeritaSorotan Senin, 25 Agustus 2025

Kamis, 14 Agustus 2025 rangkaian Dies Natalis ke-79 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) secara resmi dibuka. Rangkaian Dies Natalis ke-79 FKH dibuka

Lihat   Selengkapnya

Pembukaan Dies Natalis ke-79 FKH UGM Dimeriahkan oleh Festival Andong se-Yogyakarta

BeritaSorotan Kamis, 14 Agustus 2025

Kamis, 14 Agustus 2025 rangkaian Dies Natalis ke-79 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) secara resmi dibuka. Rangkaian Dies Natalis ke-79 FKH dibuka

Lihat   Selengkapnya
123…7
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Gadjah Mada

Jl. Fauna No. 2 Karangmalang, Yogyakarta 55281 Indonesia

fkh@ugm.ac.id
+62 (274) 6492088
+62 (274) 560862
+62 (274) 560861

Informasi Publik

Permohonan Informasi Publik

Daftar Informasi Tersedia Secara berkala

Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

© Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada 2025

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju