Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) menjadi salah satu sarana pembelajaran dalam rangkaian The 1st Gadjah Mada Veterinary Medicine International Summer Course 2026, pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan bertema “Guardian of Forest Wildlife: Advancing Global Perspective in Wildlife Conservation, Health” ini, menghadirkan pengalaman praktik laboratorium yang memperkaya pemahaman peserta tentang konservasi, kesehatan, dan kesejahteraan satwa liar pada skala laboratorium. Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh 26 peserta dari berbagai negara, antara lain Inggris, Filipina, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, Singapura, Brunei Darussalam, Sri Lanka, dan Malaysia. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok kecil yang secara bergantian mengikuti pembelajaran di tiga learning station, yaitu Sperm Cryopreservation, Wildlife Parasitology, dan Stem Cell Culture.
Setiap learning station diawali dengan materi pengantar oleh para dosen pengampu, kemudian dilanjutkan dengan praktik sederhana yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu kedokteran hewan untuk konservasi satwa liar. Pada station sperm cryopreservation, Dr. drh. Vincentia Yoelinda, M.Si. dan Dr. drh. Berlin Pandapotan Pardede, M.Si., memandu peserta mempelajari teknik uji viabilitas sperma dan memberikan pengantar tentang preservasi semen beku. Peserta mengamati proses handling semen beku serta mengevaluasi kualitasnya menggunakan mikroskop. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya teknologi reproduksi di tingkat laboratorium sebagai salah satu strategi konservasi satwa liar untuk menjaga keberlanjutan populasi satwa liar.
Dr. drh. Vika Ichsania bersama asisten laboratorium parasitologi, Fais, memperkenalkan Wildlife Parasitology kepada para peserta. Peserta mengamati preparat berbagai parasit yang dapat menyerang satwa liar, seperti gajah, komodo, dan kerbau. Melalui pengamatan mikroskopis tersebut, peserta diajak untuk memahami pentingnya deteksi dan pengendalian penyakit parasitik dalam mendukung kesehatan satwa serta keberhasilan upaya konservasi di habitat alaminya. Sementara itu, di station stem cell culture, drh. Yudith Violetta Pamulang, M.Sc. dan drh. Irma Padeta, M.Sc., memberikan pengantar teknik dasar kultur sel, memandu praktik penggantian media kultur, serta mengamati pertumbuhan dan morfologi sel punca. Pembelajaran ini memperkenalkan potensi teknologi sel punca sebagai pendekatan inovatif dalam riset biomedis dan konservasi satwa liar di masa depan.
Kegiatan yang dikemas secara interaktif ini tidak hanya memperluas wawasan peserta mengenai penerapan ilmu laboratorium dalam kedokteran hewan, tetapi juga mendorong minat mereka untuk terlibat lebih jauh dalam riset konservasi satwa liar. Kegiatan ini terselenggara melalui Program EQUITY (Hibah Inovasi dan Internasionalisasi Akademik Melalui Kursus Singkat Bidang Unggulan Lintas Disiplin), yang diinisiasi oleh Kemdiktisaintek dan LPDP, melalui Direktorat Kemitraan dan Relasi Global Universitas Gadjah Mada. Kolaborasi lintas negara melalui Summer Course ini diharapkan dapat memperkuat perspektif global dan jejaring akademik dalam menghadapi tantangan kesehatan dan kesejahteraan satwa liar.Pelaksanaan kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.




