YOGYAKARTA – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada terus berkomitmen dalam mewujudkan lingkungan kampus yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Langkah nyata ini diwujudkan
SDG 11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan
Kegiatan dimulai pada hari Jumat, 21 November 2025 di Auditorium Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada dengan Opening Ceremony yang dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan Himne Gadjah Mada, Himne IMAKAHI, dan Mars IMAKAHI. Kegiatan diawali dengan dengan penampilan tari Retno Asri, selanjutnya sambutan ketua panitia, Diva Pendriana, sambufftan drh. Retno Widyastuti sebagai Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gunungkidul, serta sambutan dan simbolis pembukaan oleh Wakil Dekan FKH UGM, Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si.
Setelah rangkaian Opening Ceremony usai, para Satra diantarkan menuju Teaching Farm Playen. Di Teaching Farm, Satra dibagi menjadi 3 pos untuk mendapatkan Pelatihan Yanduan dari drh. Woro Danur Wendo, M.Sc., Dr. drh. Vincentia Trisna Yoelinda, M.Si., dan drh. Rina Wijayanti mengenai tata laksana pemeriksaan dasar kesehatan ternak sapi dan kambing. Pelatihan Yanduan dilaksanakan guna memperkaya pengetahuan, sejalan dengan SDGs 4 ‘Pendidikan Berkualitas’ yang menegaskan bahwa pembelajaran yang inklusif dan kolaboratif diperlukan untuk memberi kesempatan yang sama bagi setiap mahasiswa untuk mendapat pengetahuan dasar mengenai ternak sebelum terjun ke lapangan.
Selepas belajar bersama, seluruh Satra mengikuti kegiatan Guyub Sesrawungan di Balai Kalurahan Getas bersama warga setempat, yang dibuka dengan sambutan Bapak Saekat selaku Kepala Kalurahan Getas, penampilan drama delegasi oleh kelompok 7 dan dimeriahkan dengan kuis tanya jawab mengenai drama yang telah ditampilkan. Rangkaian Guyub Sesrawungan ditujukan untuk mengawali hubungan baik antara PENGMASNAS IMAKAHI 2025 dengan Kalurahan Getas yang juga mengimplementasikan SDGs 17 ‘Kemitraan untuk Mencapai Tujuan’. Hari semakin malam, Satra dibagi menjadi 11 kelompok dan diantarkan menuju rumah huni yang berada di 6 dukuh, yakni Padukuhan Getas, Padukuhan Tanjung, Padukuhan Ngasem, Padukuhan Gubuk Rubuh, Padukuhan Ngrunggo, dan Padukuhan Gembuk untuk beristirahat.
Kegiatan hari kedua pada Sabtu, 22 November 2025 diawali dengan persiapan Satra di rumah huni masing-masing, kemudian setiap kelompok mengikuti briefing singkat mengenai Medical Check Up atau biasa dikenal Yanduan bersama 11 orang Supervisor yang merupakan dokter hewan dan paramedis veteriner dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul serta UPT Puskeswan Playen, juga bersama beberapa mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan FKH UGM. Yanduan dilaksanakan terpisah menjadi 11 titik di 6 padukuhan dengan didampingi seorang warga setempat yang menjadi pemandu jalan. Pada setiap titik, 20 ekor ternak sapi atau kambing dipantau kesehatannya dengan pemeriksaan umum seperti pengecekan suhu, kebuntingan, auskultasi, serta pemberian vitamin B, obat cacing, dan vaksinasi bersyarat. Yanduan merupakan upaya mengimplementasikan aspek One Health juga SDGs 3 ‘Kehidupan Sehat dan Sejahtera’ dengan meningkatkan kesejahteraan hewan melalui pemeriksaan kesehatan serta pemberian vitamin, obat, dan vaksinasi sebagai awal pencegahan penyakit zoonosis.
Bersamaan dengan Yanduan, panitia melaksanakan kegiatan bakti sosial guna membantu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kalurahan Getas yang membutuhkan. Dengan bakti sosial, PENGMASNAS IMAKAHI 2025 berupaya mewujudkan SDGs 1 ‘Menghapus Kemiskinan’ dan SDGs 2 ‘Mengakhiri Kelaparan’ yakni mengurangi beban ekonomi warga dengan mendistribusikan paket sembako bagi 10 warga di setiap padukuhan yang kurang sejahtera.
Pada malam hari, Satra dari berbagai dukuh diarahkan menuju tiga titik Penyuluhan dan Workshop, yaitu di rumah Kepala Dukuh Ngasem, rumah Kepala Dukuh Tanjung, dan rumah Kepala Dukuh Ngrunggo. Acara dibuka oleh MC di tiap lokasi dan dilanjut dengan penyuluhan mengenai Manajemen Kandang dan Lingkungan oleh drh. Agus Riyanto, drh. Wivqie Halum, dan drh. Nurwahyudi, S.Pt. Materi yang disampaikan mencakup prinsip-prinsip dasar pengelolaan kandang. Selama kegiatan berlangsung, warga aktif bertanya dan berdiskusi mengenai masalah kandang yang dihadapi.
Setelahnya, kegiatan dilanjutkan dengan Workshop pakan tambahan berbasis molases dan mineral bernama UMMB (Urea Molasses Mineral Block). Selama kegiatan, Satra mendampingi warga dalam proses pencampuran bahan, pengadukan, pencetakan, hingga penjelasan manfaat UMMB guna meningkatkan produktivitas ternak. Workshop berlangsung interaktif dan memberikan wawasan praktis yang dapat langsung diterapkan warga dalam kegiatan beternak. Suksesnya kegiatan Penyuluhan dan Workshop menunjukkan bahwa SDGs 12 ‘Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab’ terwujud dengan terbarukannya pengetahuan warga mengenai tata kelola pakan dan kandang guna meningkatkan efisiensi produksi ternak di Kalurahan Getas.
Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan hari kedua PENGMASNAS IMAKAHI 2025 berjalan lancar dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Pelayanan kesehatan ternak melalui Yanduan, edukasi melalui Penyuluhan, serta praktik langsung dalam Workshop UMMB menjadi pengalaman bermakna bagi warga dan Satra. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini memperkuat kompetensi delegasi sebagai calon dokter hewan yang siap terjun ke dunia profesi. Kegiatan hari kedua ditutup dengan suasana penuh kehangatan, kolaborasi, dan harapan agar ilmu yang dibagikan dapat terus bermanfaat bagi masyarakat Kalurahan Getas.
Kegiatan hari ketiga PENGMASNAS 2025 diawali dengan Senam dan Sarapan bersama yang diikuti oleh seluruh delegasi dan beberapa warga lokal. Senam dan Sarapan dibagi ke dalam tiga lokasi yang sama seperti lokasi Penyuluhan dan Workshop. Senam yang dipimpin oleh panitia berhasil mencairkan suasana dan mempererat tali silaturahmi, sehingga baik warga, Satra, dan panitia terlihat menikmati kegiatan tersebut dengan antusias. Seusai sarapan, peserta melanjutkan kegiatan bersih-bersih dan berkemas di rumah huni untuk persiapan menuju Closing Ceremony.
Seluruh Satra berkumpul di Balai Kalurahan untuk mengikuti Closing Ceremony. Acara ini dibuka dengan sambutan oleh Penanggung Jawab PC IMAKAHI, Aprilia Ipon, dilanjutkan sambutan Ketua Umum PB IMAKAHI, Briliani Sekar Utami dan sambutan terakhir oleh Kepala Kalurahan Getas, Bapak Saekat. Kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian kesan dan pesan dari Satra, pemberian sertifikat, serta penyerahan bibit tanaman mangga sebagai tanda kenangan dan harapan keberlanjutan kegiatan. Pemberian ini mewujudkan SDGs 15 ‘Menjaga Ekosistem Darat’ dengan upaya melestarikan lingkungan melalui penanaman pohon. Rangkaian acara diakhiri dengan foto bersama. Setelah Closing Ceremony selesai, Satra diantarkan kembali menuju FKH UGM untuk mengikuti Bonding dan makan bersama. Bonding ditutup dengan pemutaran mini after movie PENGMASNAS IMAKAHI 2025 dan penutupan resmi oleh MC.
Usai Bonding, beberapa Satra melanjutkan kegiatan “Jogja Istimewa” berupa kunjungan ke destinasi budaya di Yogyakarta, Museum Sonobudoyo dan Museum Benteng Vredeburg. Sementara itu, Satra yang tidak mengikuti kegiatan Jogja Istimewa diarahkan panitia menuju stasiun terdekat untuk kepulangan. Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta dipilih sebagai destinasi wisata yang menghadirkan kisah perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sehingga memberikan pengalaman edukatif yang mendalam bagi pengunjung. Sementara itu, Museum Sonobudoyo dengan koleksi budaya dan arkeologi yang sangat beragam memberikan suasana hangat dan sarat nilai budaya, sehingga memperkaya wawasan Satra mengenai sejarah dan kearifan lokal Yogyakarta. Kedua kunjungan ini mengimpelentasikan SDGs 11 ‘Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan’ yang mendukung keberlanjutan komunitas dengan peningkatan kesadaran akan pelestarian warisan budaya dan alam dunia. Kegiatan hari ketiga ditutup dengan pengantaran para delegasi ke stasiun setelah selesai mengikuti rangkaian Jogja Istimewa. Rangkaian kegiatan PENGMASNAS IMAKAHI 2025 sukses mewujudkan program kerja yang berkelanjutan, bermanfaat, dan inklusif melibatkan peran dokter hewan serta calon dokter hewan dalam mengimplementasikan ‘Manusya Mriga Satwa Sewaka’ melalui pengabdian pada masyarakat Kalurahan Getas, Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.





























Yogyakarta, 20 Oktober 2025 – Persatuan Orang Tua Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (POTMA FKH UGM) sumbangkan satu unit bangunan limasan kepada FKH UGM sebagai
UKM Expo 2025 menjadi salah satu kegiatan yang ditunggu – tunggu bagi mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada 2025. UKM EXPO 2025 merupakan kegiatan yang memperkenalkan unit
The 79th Anniversary of the Faculty of Veterinary Medicine UGM Began with Yogyakarta Andong Festival
Kamis, 14 Agustus 2025 rangkaian Dies Natalis ke-79 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) secara resmi dibuka. Rangkaian Dies Natalis ke-79 FKH dibuka
Kamis, 14 Agustus 2025 rangkaian Dies Natalis ke-79 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) secara resmi dibuka. Rangkaian Dies Natalis ke-79 FKH dibuka
Untuk mengawali kepengurusan PMK 2025 dan menyatukan visi misi dalam berpelayanan, pada tanggal 15 Maret 2025, Badan Pengurus Harian dan Dewan Pembimbing PMK FKH UGM mengadakan pembekalan pengurus.....
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini diselenggarakan dengan kerjasama antara FKH UGM dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang D.I. Yogyakarta, dan melibatkan 12 dokter hewan pelaksana, 18 koasistensi serta mahasiswa S1 dari UKM Kelompok Studi Hewan Kesayangan (KSHK) dalam perawatan pasca operasi. Ketua PDHI DIY, drh. Aniq Syihabuddin, dalam wawancaranya mengatakan kegiatan ini dilaksanakan di kampus dikarenakan banyaknya kucing yang diberikan street-feeding oleh para pecinta kucing di UGM. Oleh karena itu, populasinya perlu dikendalikan dengan sterilisasi agar tidak menyebabkan masalah lingkungan maupun masalah kesehatan kucing itu sendiri. Selain itu pemberian vaksinasi rabies pada kucing-kucing di kampus penting dilakukan untuk mencegah penularan rabies ke manusia melalui kucing. Vaksinasi rabies membantu mengurangi risiko penyebaran penyakit zoonosis, melindungi kesehatan hewan dan manusia. Hal ini secara tidak langsung mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 3, Good Health and Well-being.

Kerjasama ini merupakan upaya untuk mensinergikan kegiatan FKH UGM dan PDHI D.I Yogyakarta sehingga bisa semakin meluas, tidak hanya di lingkungan kampus tetapi juga di masyarakat umum untuk membantu mengendalikan populasi kucing serta meningkatkan ketahanan hewan kesayangan terhadap penyakit rabies dengan program vaksinasi gratis. Program ini akan dilanjutkan secara berkala demi mencapai tujuan jangka panjang dalam pengelolaan populasi kucing, membantu menjaga keseimbangan ekosistem, mencegah dampak negatif pada biodiversitas serta berkontribusi pada lingkungan perkotaan yang lebih bersih dan aman. Hal ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 15, Life on Land dan SDGs 11, Sustainable Cities and Communities.

Keterlibatan mahasiswa dalam program sterilisasi kucing dapat menjadi kesempatan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang kesejahteraan hewan dan pentingnya pengendalian populasi hewan, serta memperoleh pengalaman praktis yang mendukung pendidikan mereka di bidang kedokteran hewan selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 4, Quality Education. Tamam, salah satu koasistensi yang terlibat mengatakan, kegiatan ini memberikan kesempatan baginya untuk mempraktekkan secara langsung beberapa langkah operasi di antaranya incisi abdomen kucing dan ligasi uterus.
Penulis: Laila Nur Fatimah
Sapi-sapi yang bergabung terdiri dari 5 kelompok gerobak sapi, yaitu kelompok Pangrekso Andini Karyo, Langgeng Sehati, Makarti Roso Manunggal, Manunggal Lestari, dan Pager Merapi yang berasal dari Klaten, Jawa Tengah. (SGD 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan – Kemitraan Masyarakat Sipil).

Acara dimulai dengan karnaval gerobak sapi yang diikuti 86 gerobak pada pukul 08.00 pagi. Masing-masing gerobak ditarik oleh 2 ekor sapi, dan gerobak dinakhodai 1 bajingan dan 1 navigator di bagian belakang. Pada saat karnaval, penonton boleh ikut merasakan duduk didalam gerobak dan ikut berkeliling. Gerobak Sapi terlihat indah dengan warna-warni yang memukau.
Gerobak Sapi Yogyakarta adalah warisan budaya tak benda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang sudah diakui UNESCO sejak tahun 2019 Gerobak-gerobak ini masih aktif digunakan sebagai sarana transportasi lokal yang tentu saja tidak mengeluarkan polusi udara (SDG 11 Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan).
Sapi yang diikutkan adalah sapi potong tipe Peranakan Ongole (PO). Salah satu ciri khas Sapi PO adalah badan yang tinggi besar, berwarna putih keabu-abuan, dan mempunyai punuk di belakang kepala. Sapi-sapi PO ini mendapatkan perawatan yang maksimal dan sudah pasti sehat karena mampu dan sudah terbiasa untuk menarik gerobak dan melakukan perjalanan yang cukup panjang (SDG 15 Ekosistem Darat).

Setelah melakukan karnaval, terdapat 2 lomba yang bisa mereka ikuti, yaitu: Drag Race, dan Tunggang Sapi. Perlombaan Drag Race adalah lomba ketangkasan pengemudi gerobag sapi (bajingan). Perlombaan ini hanya boleh diikuti oleh 1 orang bajingan atau joki tanpa navigator sedangkan tipe gerobak ditentukan oleh panitia. Peserta diperbolehkan menggunakan sapi milik sendiri atau sapi yang disediakan panitia. Selama lomba berlangsung, sapi dan gerobaknya harus melewati rute yang sudah dirancang dalam waktu maksimal 5 menit. Hal-hal yang menjadi penilaian adalah bagaimana ketangkasan bajingan mengendalikan sapi beserta gerobag yang ditungganginya tanpa menyentuh tali batas luar rute dan pasak pada bagian tengah rute melingkar. Kecepatan juga sekaligus menjadi poin penilaian.
Lomba individu berikutnya adalah kategori Sapi Tunggang. Masing-masing penunggang dan sapinya harus melewati rute berliku yang ditentukan panitia dalam waktu kurang dari 2 menit. Selain itu, sapi harus mampu diarahkan untuk memberikan penghormatan di depan panggung selama 30 detik. Kriteria penilaian adalah kepatuhan dan ketenangan sapi dalam kendali sang joki (bajingan) dan keselarasan keduanya dalam waktu yang terbatas.

Para pemenang (3 terbaik dari setiap kategori) dihadiahi piala Dekan FKH UGM serta uang pembinaan atas keterampilan mereka merawat dan mengendalikan sapi (SDG 1 tanpa kemiskinan). Menariknya, salah satu pemenang Sapi Tunggang adalah anak kecil yang masih berumur 6 tahun bernama Gani Mustofa, bahkan pemenang pertamanya adalah seorang perempuan (SDG 5 Kesetaraan Gender). Sapi yang diikutkan lomba tunggang juga tampak sejahtera dan kondisinya sangat baik. Tak heran, paska lomba harga jualnya menjadi meningkat. Setiap peserta juga berhak membawa pulang 50kg pakan ternak yang dibagikan panitia di akhir acara. Acara yang melibatkan pemerintah, kampus, peternak, dan masyarakat luas ini berlangsung meriah, memberi kebahagiaan bagi para peserta lomba yang tergabung dalam paguyuban, serta ribuan masyarakat yang menyaksikan.
Seminar dibuka oleh Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Sc., selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama dan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Seminar berlangsung secara daring dan luring di Ruang Sidang Dekanat dan dihadiri oleh dosen, praktisi kesehatan hewan, dan mahasiswa S1-S3 FKH maupun dari universitas diluar UGM. Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Ahmed Abd El Wahid menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi antara sektor kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat, baik akademisi maupun pihak pemerintah untuk mengatasi tantangan zoonosis, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Indonesia, yang memiliki bentuk kepulauan sehingga membutuhkan Kerjasama berbagai pihak untuk mengatasi masalah zoonosis khususnya terkait lalu lintas pangan asal hewan dan foodborne disease. Beliau juga membahas strategi pencegahan dan pengendalian penyakit zoonotik yang efektif.
Sementara itu, Prof. Dr. Uwe Truyen berbagi penelitian terbaru mengenai patogen zoonotik dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat global. Ia menyoroti perlunya pendekatan berbasis bukti dalam menangani isu-isu zoonosis yang berkembang seiring dengan perubahan iklim dan urbanisasi.
Kuliah umum ini memberikan wawasan baru terkait zoonosis terutama pendekatan One Health sebagai strategi holistik untuk memerangi penyakit emerging dan re-emerging disease pada negara yang memiliki pendapatan rendah dan menengah. Selain itu, kegiatan ini juga berimpak pada fungsi ketahanan pangan yang sehat. Kuliah umum terkait zoonosis menjadi wujud nyata Fakultas Kedokteran Hewan UGM dalam upaya mencapai tujuan SDGs 1: Tanpa Kemiskinan, SDGs 2: Tanpa Kelaparan, SDGs 3:Kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 4: pendidikan berkualitas, SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDGs 7: Energi bersih dan terjangkau, SDGs 8: Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan, SGDs 11: Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan, SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung jawab, SDGs 14: Ekosistem Lautan, SDGs 15: Ekosistem Daratan, SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang tangguh, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Yanis Ramadhanti