Dalam rangka meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan, FKH UGM mengadakan beberapa pelatihan soft skill bagi tenaga kependidikan FKH YGM. Pelatihan ini diadakan pada tanggal 23 dan 24 Desember 2024
Berita
Salah satu rangkaian Dies Natalis Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ke-75 dan Lustrum ke-15 adalah Kirab Nitilaku. Pada tahun ini, Kirab Nitilaku mengangkat tema “Silaturahmi Kebangsaan: Merawat
Ujian Akhir Semester (UAS) bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM dimulai pada hari Senin, 2 Desember 2024 hingga Jumat, 13 Desember 2024. Oleh karena itu, dalam rangka mendukung mahasiswa




Workshop ini bertujuan meningkatkan mutu pelaksanaan koasistensi reproduksi sebagai pilar utama pendidikan dokter hewan. Koasistensi tidak hanya memberikan pengalaman belajar langsung kepada mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang penguatan kompetensi melalui integrasi ilmu pengetahuan akademik dengan praktik lapangan.
Dalam sambutannya, Prof. Aris Haryanto, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FKH UGM, menekankan pentingnya peran dokter hewan pembimbing dalam membentuk kompetensi mahasiswa. “Sinergi antara akademisi, praktisi, dan pembimbing lapangan adalah kunci keberhasilan dalam mencetak dokter hewan yang kompeten, profesional, dan berintegritas,” ujar Prof. Aris.
Dukung SDGs melalui Pendidikan Reproduksi Hewan
Workshop ini juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), terutama:
- Sustainable Agriculture (Tujuan 2: Tanpa Kelaparan) – dengan meningkatkan kompetensi di bidang reproduksi hewan guna mendukung produktivitas dan keberlanjutan agrikultur.
Pada pertemuan pertama, kegiatan diawali dengan pembukaan oleh MC diikuti sambutan dari ketua pelaksana, sambutan dari ketua BEM FKH UGM, dan sambutan dari Ketua Yayasan Panti Atap Langit. Dilanjutkan dengan pengenalan dan pemaparan materi mengenai animal welfare, handling, dan cara merawatnya dengan baik pada hewan yang interaktif dan edukatif yang dibantu oleh volunteer dari mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Pada kesempatan ini anak-anak diajarkan bahwa kucing merupakan binatang karnivora yang artinya pemakan daging. Ada dua jenis makanan yang dibuat untuk kucing, yaitu dry food dan wet food. Makanan kering (dry food) dikonsumsi oleh kucing umur lebih dari 3 bulan, dan makanan basah (wet food) dikonsumsi oleh kucing umur 3-4 minggu. Kucing juga akan memakan protein dari ayam atau ikan yang sudah digoreng, direbus, atau dipanggang. Bertentangan dengan kepercayaan umum, kucing tidak boleh makan tulang ayam atau tulang ikan karena ini bisa melukai mereka. Kucing juga dilarang makan keju, telur mentah, roti, dan coklat.
Selain itu, para relawan juga menjelaskan cara merawat hewan peliharaan dengan baik, termasuk cara memandikan dan membersihkannya. Sebaiknya mandikan kucing dengan air hangat, cuci dengan sampo khusus kucing, dan pastikan langsung mengeringkan bulunya setelah mandi. Kegiatan ini dilanjutkan dengan kuis menarik dan diakhiri dengan sesi dokumentasi.
Kegiatan ini dilanjutkan dengan kuis yang menarik dan diakhiri dengan sesi dokumentasi.
Dalam pertemuan kedua, kegiatan FKH Mengajar 2 diawali dengan pembukaan oleh MC diikuti sambutan ketua pelaksana, sambutan ketua BEM FKH UGM, dan sambutan dari ketua Yayasan Pondok Pesantren Madania. Dilanjutkan dengan pengenalan dan pemaparan materi mengenai pemilahan sampah dan cara pembuatan ecobrick yang interaktif dan edukatif yang dibantu oleh volunteer dari mahasiswa/i FKH UGM.
Kegiatan ini mengajarkan anak-anak bagaimana memanfaatkan kembali sampah di sekitar mereka. Ecobrick hanya membutuhkan botol air minum bekas dan plastik kemasan atau kantong kresek. Kita hanya perlu mengisi botol air bekas dengan plastik lunak (kresek) dan agak keras (plastik kemasan ciki-cikian) hingga penuh dan padat. Tidak memerlukan keahlian khusus dan semua orang bisa melakukannya. Ecobrick ini dapat digunakan untuk bahan bangunan dan dapat digunakan berulang kali. Kegiatan ini mengajarkan anak-anak bagaimana peka terhadap sampah di sekitar mereka dan bagaimana mereka dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih hijau dengan mengelola sampah sehari-hari mereka sendiri. Hal ini juga merupakan upaya penanganan perubahan iklim yang semakin parah dengan mengelola sampah yang tidak dapat terurai.
Secara keseluruhan, FKH Mengajar 2024 telah terlaksana dengan baik. Anak-anak dari Yayasan Panti Asuh Atap Langit dan Yayasan Pondok Pesantren Madania yang berpartisipasi sebagai peserta juga tampak selalu antusias dan semangat dalam mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Melalui kegiatan ini, tidak hanya pengetahuan akademis yang dipertukarkan, tetapi juga nilai-nilai sosial, kepedulian lingkungan, dan semangat untuk saling membantu diantara kedua belah pihak. Dengan keberhasilan FKH Mengajar 2024, harapan akan adanya dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan kemajuan pendidikan lokal semakin menguatkan langkah awal menuju perubahan yang lebih baik.
FKH Mengajar 2024 berkorelasi dengan beberapa poin Sustainable Development Goals yaitu dalam mendukung tujuan untuk menuju Pendidikan berkualitas dalam bentuk peningkatan kapasitas peserta dengan bentuk pelatihan secara langsung terkait ilmu kedokteran hewan kepada masyarakat, khususnya anak-anak. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung tujuan mengenai penjagaan ekosistem daratan dengan bentuk pemeliharaan demi menjaga kelangsungan hidup ekosistem yang berfokus pada pengolahan sampah melalui pembuatan ecobrick. Dengan demikian, pelaksanaan FKH Mengajar 2024 memiliki urgensi tersendiri karena membuktikan bahwa kegiatan ini dapat memberikan dampak nyata dalam pembangunan berkelanjutan.
Kontributor : Dwi Jatmiko Wahyu Nugroho
Prof. Yayi selaku Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) memaparkan definisi sehat jiwa, stages of mental health condition, pemicu gangguan mental, serta, ancaman kesehatan mental bagi generasi Y dan Z. Orang yang sehat jiwa dapat mengenali potensi dirinya, produktif dalam kegiatan sehari-harinya, tangguh menghadapi permasalahan, serta mampu berkontribusi dalam komunitas. Beliau juga menekankan bahwa individu yang memiliki penyakit mental tidak mutlak terlihat seperti orang mengidap penyakit pada umumnya, namun bukan berarti penyakit mereka tidak lebih berat daripada orang yang mengidap penyakit yang menyerang fisik.
Saat ini ancaman yang dihadapi oleh generasi muda dalam kesehatan mental diantaranya adalah banyaknya opsi dan distraksi dari sosial media, tuntutan akademik maupun non-akademik dari keluarga serta lingkungan sekitar, overthinking, dan FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan trend. Selain itu, pemicu lainnya berupa adiksi terhadap gadget dan game online, judi online, cyber bullying, dan shopping online yang berlebihan. Hal-hal tersebut, dapat memicu stress yang diartikan sebagai perasaan tertekan, cemas atau tegang. Stimulus atau respon yang menuntut individu untuk melakukan penyesuaian.
Beberapa cara penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan mental dan stress antara lain, peningkatan terhadap literasi kesehatan mental, puasa sosial media, serta meningkatkan faktor protektif seperti social network (hubungan sosial yang baik) dan self-esteem (kepercayaan diri). Bangun kebiasan baik dari hal-hal kecil. Lacak waktu yang dihabiskan selama seminggu. Sempatkan refleksi diri. Selalu ucapkan terima kasih dan bersyukur. Tetapkan batasan dalam mengerjakan tugas. Kenali batas diri sendiri. Di lingkungan kampus, pengurangan resiko gangguan mental dapat dilakukan dengan menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan.
Lebih jauh lagi, Prof. Yayi mengingatkan untuk selalu istirahat yang cukup, perbanyak kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakat, dan perbanyak makan buah dan sayur. Kesehatan fisik berpengaruh baik pada kesehatan mental. Olahraga dapat meingkatkan hormon Endorfin (penghilang rasa sakit, rileks). Beliau menyarankan untuk olahraga yang teratur dan terukur, minimal 150 perminggu (30 menit tiap hari). Pilih yang sesuai dengan keadaan, mulailah secara bertahap, dan tidak memaksakan diri. Hal ini juga mendukung program HPU menuju Universitas Sehat.
Setelah pemaparan berakhir, para dosen FKH UGM sebagai peserta dipersilahkan untuk melakukan tanya jawab dengan narasumber. Peserta dapat mencurahkan permasalahan yang dihadapi terkait kondisi kesehatan mental mahasiswa. Setelah itu, acara ditutup dengan foto bersama dan penyerahan sertifikat.
Pelaksanaan kegiatan Pelatihan dosen dalam mengenal, menangani dan mencegah gangguan mental mahasiswa adalah upaya meningkatkan literasi kesehatan mental dan komitmen untuk menciptakan ruang yang less-stressful bagi civitas akademka FKH UGM. Acara ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan peserta serta menjadi bekal utama bagi dosen kedokteran hewan agar kedepannya dapat lebih mengenal, menangani dan mencegah gangguan mental mahasiswa lebih awal.
Acara Pelatihan dosen dalam mengenal, menangani dan mencegah gangguan mental mahasiswa mendukung nilai-nilai SDGs (Sustainable Development Goals) pada poin 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG point 4 Pendidikan Berkualitas, SDG poin 5 Kesetaraan Gender, SDG poin 10 Berkurangnya Kesenjangan, SDG poin 16 yaitu Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, dan SDG poin 2 yaitu Tanpa Kelaparan.
Selanjutya disampaikan juga profil FKH UGM oleh drh. Krisna Noli Andrian mengenai gambaran perkuliahan seperti kegiatan pembelajaran, praktikum, koasistensi hingga jenjang karis sebagai dokter hewan. Drh. Noli juga menjelaskan terkait kegiatan mahasiswa yang ada di FKH UGM. Beberapa siswa juga aktif bertanya terkait peran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dalam kegiatan perkuliahan serta tips, trik, dan motivasi menjadi dokter hewan.
Selama kunjungan, para siswa diajak berkeliling kampus dan mengunjungi beberapa fasilitas utama, seperti laboratorium makroanatomi, (UP2KH), dan Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi. Mereka mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung melihat koleksi kerangka hewan yang dimiliki oleh laboratorium makroanatomi seperti kerangka kambing, sapi, bahkan lumba-lumba. Selain itu, mereka juga diajak untuk berinteraksi dengan sapi dan kambing yang ada di UP2KH. Tidak hanya teori, siswa juga diajak mencoba langsung praktik dasar di bawah bimbingan mahasiswa seperti cara memeriksa tanda-tanda vital pada hewan dan teknik dasar pemeriksaan fisik. Banyak dari mereka yang menunjukkan antusiasme tinggi, bahkan beberapa di antaranya mengaku semakin tertarik untuk melanjutkan studi di bidang kedokteran hewan.
Kirana, salah satu siswa SMA mengatakan bahwa kunjungan ke FKH UGM menjadi salah satu pengalaman yang menarik karena dia dan teman-temannya diajak melihat laboratorium makro anatomi dan mencoba langsung memerika kondisi dan menghandling kambing. Hal ini menyebabkan dia menjadi tertarik untuk menjadi dokter hewan.
Kunjungan beberapa sekolah seperti seperti SMA BPK Penabur Bogor, SMA Fons Vitae Jakarta, SMA Negeri 1 Kuta Utara, dan SMA Islam Al Azhar 22 Cikarang selaras mendukung nilai-nilai SDGs (Sustainable Development Goals) yaitu SDGs 4: Kualitas Pendidikan dengan misi penyelenggarakan pendidikan yang bermutu untuk masyarakat dengan mengenalkan dunia kedokteran hewan kepada siswa SMA.
Instalasi ini, berada di lantai 1, tepat di sebelah Perpustakaan. Tempatnya yang strategis, membuat instalasi ini sering ramai, dan kadang hingga mengantri. “Tempatnya strategis banget, di depan perpustakaan. Kan biasanya mahasiswa pada kumpul disitu, sambil nunggu praktikum atau selesai praktikum”, ujar Gayuh, salah satu mahasiswa FKH UGM.
Mahasiswa lainnya, Reyhan, berkata “Akan lebih bagus kalau bisa punya lebih dari 1. Bisa diletakkan di dekat kantin, jadi lebih strategis kalau mau minum gratis.” Kedua mahasiswa ini sepakat bahwa keberadaan air minum gratis membawa manfaat yang besar terutama bagi mahasiswa. Hingga malam hari, apabila mahasiswa masih melakukan kerja kelompik, mereka dapat mengkonsumsi air minum gratis, tanpa harus keluar gedung.
