Wakili Indonesia, Guru Besar UGM Paparkan Riset Penyakit Kucing di Forum Global Korea

Foto dari Park-3.jpg (1)

Bagikan

YOGYAKARTA, 22 Oktober 2026 – Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof. Dr. drh. Aris Haryanto, M.Si., hadir sebagai pembicara undangan (Invited Speaker) dalam ajang internasional bergengsi, Animal Healthcare Global Forum 2026. Forum ilmiah ini diselenggarakan di Kota Iksan, Korea Selatan, pada tanggal 15–16 Oktober 2026.

Tahun ini, Animal Healthcare Global Forum mengangkat tema “Leading the Change: Elevating Vet Expertise, Innovating K-Animal Healthcare Industry”. Tema tersebut menekankan pentingnya peningkatan kompetensi profesi veteriner serta pengembangan inovasi industri kesehatan hewan untuk merespons kebutuhan pelayanan kesehatan hewan yang kian kompleks. Acara ini menjadi ruang strategis yang mempertemukan para akademisi, peneliti, praktisi kedokteran hewan, regulator, serta pemangku kepentingan industri dari berbagai belahan dunia guna membahas perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, regulasi, dan inovasi global.

Pada hari pertama forum, Prof. Aris Haryanto menyampaikan presentasi ilmiahnya yang berjudul “Feline Infectious Peritonitis in Yogyakarta, Indonesia: Clinicopathological Characteristics, Diagnostic Challenges, and Molecular Insights.” Dalam paparannya, Prof. Aris berfokus pada penyakit Feline Infectious Peritonitis (FIP), sebuah penyakit fatal pada kucing yang disebabkan oleh infeksi feline coronavirus. Penyakit ini memiliki kompleksitas yang tinggi, mulai dari patogenesis, manifestasi klinis, hingga tantangan besar dalam penegakan diagnosisnya.

Bagi konteks Indonesia, penelitian mengenai FIP yang dipaparkan Prof. Aris memiliki relevansi yang sangat kuat. Studi ini berkontribusi langsung pada penguatan kapasitas diagnostik penyakit hewan kesayangan, memajukan penelitian virologi veteriner, serta memperdalam pemahaman karakteristik penyakit berdasarkan konteks klinis dan epidemiologis lokal.

Melalui forum internasional ini, diharapkan integrasi antara pemeriksaan klinis, analisis laboratorium, dan karakterisasi molekuler dapat menjadi landasan kokoh bagi pengembangan penelitian lanjutan serta evaluasi metode diagnostik yang lebih akurat dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan ke depan.