YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Kolaborasi Lintas Batas: Menurunkan Risiko Hipertensi melalui Interaksi Manusia, Hewan, dan Lingkungan”. Acara yang diinisiasi oleh Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM bekerja sama dengan KORPAGAMA UNIT FKH UGM serta HPU FKH UGM dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Webinar ini berfokus pada implementasi pendekatan One Health, sebuah strategi global yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Melalui kolaborasi lintas disiplin antara ilmu kedokteran hewan dan kedokteran manusia, webinar ini membedah bagaimana interaksi kompleks ketiga elemen tersebut memengaruhi risiko hipertensi pada manusia, sekaligus merumuskan solusi penanganan yang lebih efektif dan holistik.
Webinar ini menghadirkan pakar kesehatan keluarga, dr. Fitriana Murriya Ekawati, DPHC, Sp.KKLP, Ph.D, Subsp. FOMC. Beliau merupakan Dosen FKKMK UGM, Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga, serta aktif melayani di Klinik UGM 24 Jam (Korpagtama). Dan dibuka Oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia di Fakultas Kedokteran Hewan UGM
Dr. Fitriana membahas pengukuran tekanan darah, faktor risiko, modifikasi gaya hidup termasuk diet, olahraga, dan manajemen stres, sambil menjawab pertanyaan spesifik dari peserta tentang rekomendasi olahraga, manajemen kolesterol, dan pertimbangan diet. Webinar termasuk sesi tanya jawab interaktif di mana peserta bertanya tentang waktu olahraga, suplemen vitamin, dan berbagai faktor gaya hidup yang mempengaruhi hipertensi, dengan Dr. Fitriana memberikan saran praktis tentang menjaga kebiasaan sehat dan kapan harus mencari evaluasi medis. Dokter Fitriana menyarankan bahwa olahraga penting untuk mengelola hipertensi, merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik per minggu dengan kombinasi intensitas yang tepat. Dia mengklarifikasi bahwa sementara makanan tertentu seperti sate umumnya aman untuk pasien hipertensi, garam yang berlebihan harus dihindari. Diskusi juga membahas pertanyaan tentang suplemen vitamin, dengan Dokter Fitriana memperingatkan bahwa vitamin hanya boleh diambil bila diperlukan berdasarkan kekurangan yang diukur daripada sebagai suplemen rutin.




