Sejarah

Sejarah Kedokteran Hewan dapat dibagi dalam 4 periode, yaitu:

  1. Periode sebelum kemerdekaan
  2. Periode PTKH
  3. Periode Transisi
  4. Periode Fakultas Kedokteran Hewan

I. Periode sebelum kemerdekaan

Dokter Hewan Gubememen (Gouvernements Veearts) J. Van der Wiede ditugaskan mendirikan dan memimpin sekolah Dokter Hewan, yang lama pendidikan 2 tahun di Surabaya pada tahun 1861 . Murid sekolah tersebut sebanyak 3 orang yang kesemuanya berasal dari Jawa dan pada tahun 1867 ditambah dari pulau-pulau lain. tetapi pada tahun 1875 sekolah tersebut dibubarkan. Pada tahun 1880, dibuka sekolah Dokter Hewan yang berlangsung secara informal di Purwokerto dengan cara mengikuti Dokter Hewan Gubernement Belanda. Pendidikan dengan cara ini akhirnya ditiadakan, tetapi sistem ini berhasil meluluskan 8 orang Dokter Hewan dari 9 orang siswa. Usaha pendirian sekolah Dokter Hewan tems dilakukan, pada tahun 1893 dibentuk sekolah Dokter Hewan yang serupa dengan pendidikan dokter Jawa (STOVIA), tetapi ditolak oleh Direktur Departemen PengajaranL lbarat dan Kerajinan serta ditolak ju oleh Direktur Stovia . Pada tahun 1907 didirikan Laboratorium Kedokteran Hewan atas usul Direktur Departemen Pertanian, Kerajinan dan Perdagangan (Landbouw, Nyverheid en Hande) Prof Dr. Melchior Treub yang digabungkan dengan Klinik Hewan dan kursus untuk mendidik dokter hewan bumi putera. Lama pendidikan 4 tahun dan siswanya lulusan dari HB S dan sekolah Pertanian Menengah (Middlebare Landbouw School). Pada tahun 1910, kursus dokter hewan diubah menjadi Sekolah Dokter Hewan Bumi Putera (Inlandsche Veeartsen School) dan pada tahun 1919, sekolah tersebut dipisahkan dari Laboratorium, yang akhirnya pada tahun 1920, berdirilah Nederland Indische Veeartsen School (NIVS) yang semula untuk mendidik ahli tingkat menengah sebagai pembantu dokter hewan keluaran Utrecht. Dalam perkembangannya ternyata lulusan NIVS mampu menyamakan kualitasnya dengan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Utrecht. Pada umumnya lulusan NIVS ini dipraktek kerjakan sebagai Gouvernement Indi sche Veearts, yang antara lain ditugaskan :

  1. Memajukan, memperbaiki dan melipatgandakan hewan ternak termasuk pula unggas.
  2. Memberantas penyakit hewan menular dan mengatur ekspor dan impor ternak
  3. Memajukan dan memelihara kesehatan temak .

Ada orang yang bekerja sebagai tenaga ahli (wetenschappehjk assist) pada “Veeartsen ljkundidig Insti tuut” (selanjutnya namanya Lembaga Pusat Penyakit Hewan) dan NIVS di Bogor. Selain itu juga dapat dipekerjakan sebagai dokter Hewan daerah yang berpemerintahan sendiri (localle resoten; gemeenten dan regentschappen) dan tugasnya adalah menjalankan veterinair hygiene, yang antara lain meliputi:

  1. pemeriksaan makanan untuk manusia berasal dari ternak
  2. pengawasan perusahaan susu dan daging,
  3. pengawasan perusahaan andong, dokar dan grobag,
  4. pengawasan pasar hewan, ada beberapa dari mereka yang dibebani pula pabrik limun dan air soda serta perusahaan tahu.

Dokter hewan pemerintah diperbolehkan menjalankan praktik partikelir (swasta ) akan tetapi demi kepentingan dinas, praktik ini dapat dilarang. Sesudah bekaja selama 2 -5 tahun, banyak diantara mereka yang menjadi dokter hewan kepala daerah (ambtslringhoo/d) dengan tugas dan kewajiban yang sama dengan dokter hewan lulusan Utrecht. Setelah tahun 1920, wilayah kedokteran hewan (Veeartsenjkundige ambtskring) an di im in oleh lulusan NIVS mencapai sekitar 60%. Pemegang ijasah NIVS dapat melanjutkan pelajarannya di Veeartsenijkundige Fakulteit di Utrecht dengan mendapat kebebasan ujian kandidat sehingga pelajaran dapat diselesaikan dalam waktu 3 tahun. Kesempatan ini digunakan oleh 10 orang. Waktu penjajahan Jepang di Indonesia, Sekolah Dokter Hewan (NIVS) ditemskan dengan nama Zui Semon Gakko, kemudian pada jaman pemerintahan Indonesia diubah menjadi sekolah dokter hewan.

II. Periode PTKH

Pada awal jaman Kemerdekaan Republik Indonesia, maka atas usul kepala jawatan kehewanan RJ (R. Sutrisno) maka pada bulan maret 1 946 Menteri Kemakmuran RI telah membentuk Panitia Pendirian Sekolah Dokter Hewan Tinggi, yang anggotanya terdiri dari :

  1. Soeparwi, jabatan waktu itu Inspektur Jawatan Kehewanan Jawa Tengah merangkap Wakil Kepala Jawatan Kehewanan, sebagai ketua.
  2. Samsoe Pocposoegondo, jabatan waktu itu Dokter Hewan Drv sebagai penulis.
  3. Atmodipoero, jabatan waktu itu Inspektur SMP di Magelang sebagai anggota
  4. Iso Reksohadiprojo, jabatan waktu itu Dirjen Kementrian Kemakmuran di Magelang sebagai anggota .
  5. Soeparman Poerwosoedibjo, jabatan waktu itu Kepala perekonomian Kota prajaa Cirebon, sebagai anggota.
  6. Djaenoedin, jabatan waktu itu Direktur Balai Penyelidikan Penyakit Hewan di Bogor, sebagai anggota.
  7. Moh. Roza, jabatan waktu itu Dokter Hewan pada BPPH di Bogor, sebaga anggota.
  8. Mohede, jabatan waktu itu Direktur Sekolah Dokter Hewan di Bogor, sebaga anggota.
  9. Garnadi, jabatan waktu itu Guru Sekolah Dokter Hewan Bogor, sebagai anggota
  10. Hoctanradi, jabatan waku itu Inspekur Jawatan Kehewanan di Jawa Timur. sebagai anggota.
  11. Slamet, jabatan waktu itu Dokter Hewan Kotapradja Malang, sebagai anggota

Berdasarkan atas usul-usul panitia ini maka dengan surat keputusan Menteri Kemakmuran RI tanggal 20 september 1946 No. 1280/a/Per. Sekolah Dokter Hewan di Bogor telah diangkat menjadi Perguman Tinggi Kedokteran Hewan (tanggal ini dipakai sebagai tanggal lahir FKH) dan diresmikan pada bulan November 1 946. Adapum lamanya palajaran ditetapkan 5 tahun dan dengan syarat penerimaan untuk menjadi mahasiswa, tamatan dari : SMT bag, B, SMA bag. B, AMS bag. B, HBS 5 tahun bagian B dan lain-lain sekolah yang sederajat dengan itu. Ketika pengangkatan sebagai Perguruan Tinggi, Sekolah Dokter Hewan tersebut di atas mempunyai 4 kelas, yang berlangsung setahun, sehingga sebagai peratwan peralatihan maka pelajar-palajar kelas I, 2, 3 yang kesemuanya telah duduk setahun di kelasnya masing-masing diterima menjadi mahasiswa tingkat I, 2, dan 3 , akan tetapi harus mengikuti kursus aplikasi sedikit-dikitnya setahun dalam mata pelajaran dasar yang dianggap masih kurang cukup. Kursus aplikasi ini telah berlangsung beberapa bulan sebelum pembtikaan PTKB; agar para mahasiswa mempunyai pengetahuan sederajat dengan tamatan SMA/B, AMS/B, SMT/B dan sebagainya. Berhubung dengan kekurangan tenaga dokter hewan, maka pelajar-pelajar kelas 4 tidak diperbolehkan menjadi mahasiswa, tetapi dihanlskan menempuh ujian penghabisan dari sekolah dokter hewan. Dengan demikian maka PTKH di Bogor dimulai dengan tingkat l, 2 dan 3 yang terdiri dari kurang lebih 60 orang malrasiswa. Oleh karena pada saat itu perhubungan Bogor dengan tempat-tempat lain sangat sukar, dan untuk menjaga kemungkinan PTKH diserbu oleh Belanda, maka dengan persetujuan Menteri Kemakmuran RI dan ketua PTKH Bogor, dalam tahun 1947 di Klaten dibuka kesempatan untuk mengadakan paralel tingkatan I . Tindakan ini dianggap perlu karena untuk mencegah jangan sampai terjadi kekosongan tingkat I dan 2 . Akan tetapi sampai pada clash I (21-7-1947) paralel tingkat I belum dapat benjalan, sebab tidak ada pemuda yang mencatatkan diri sebagai mahasiswa tingkat I. Sesudah clash I, ternyata PTKH di Bogor diduduki oleh Belanda yang tentu saja sebagian besar di bawah pengaruh serta pengawasan mereka. Berhubung dengan adanya liburan pada saat itu, para mahasiswa yang sebagian besar berada di luar kota Bogor, tidak sudi kembali ke kota, tetapi menggabungkan diri pada Jawatan Kehewanan RI setempat. Mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di dalam kota pada saat, sesuai dengan cita-cita perjuangan kemerdekaan mengambil sikap untuk bertahan serta tidak akan melanjutkan pelajarannya disalah satu perguruan tinggi yang dibuka oleh Belanda. PTKH RI Bogor sejak clash I sampai pembukaan Diergeneeskundige Fakulteit oleh Belanda pada bulan Mei 1 948, secara resmi tidak pernah ditutup, hanya karena suasana politik waktu itu maka tidak dapat benjalan karena mula-mula tidak ada seorang mahasiswapun yang mau melanggar katetapan sikapnya. Guru-gurunnya sebagian menyatakan kesanggupannya untuk bekerja sama dengan Belanda. Setelah Diergeneeskundige Fakulteit dari Universiteit Indonesia dalam tahun 1948 mulai dibuka, Iambat laun datanglah sebagian besar mahasiswa PTKH RI untuk mendaftarikan diri, sebagian mahasiswa yang lain tetap menjadi “non”. Berdasatkan atas kenyataan i ni dan untuk mempertahankan tetap berdirinya PTKH RI, maka dengan bantuan Perguruan tinggi Kedokteran yang telah berdiri di Klaten, di tempat ini pada permulaan tahun 1 948 dibukalah PTKH, mulai dari tinglcat I dengan 3 orang mahasiswa berasal dari Bogor dan seorang dari SMT/B Malang . Lambat laun datanglah mahasiswa-mahasiswa dari bogor yang tidak mau menggabungkan diri dengan Diergeneeskundige Fakulteit Belanda. Untuk tahun ajaran 1 948/1949 tercatat 12 orang mahasiswa sebagai berikut:

  • tingkat I—— 6 orang (3 dari SMNSMT dan 3 dari Perguruan Bogor)
  • tingl(at 11 —— 3 orang, semua asal dari Bogor
  • tingkat 111 — 3 orang semua asal dari Bogor.

Adapun guru-gurunya terdiri dari guru Perguruan Tinggi Kedokteral Perguruan Tinggi Pertanian dan Dokter-Dokter Hewan dari Jawatan Kehewanan . Kuliah-kuliah baru dapat berlangsung dengan agak lancar beberapa bulan, maka datanglah clash II (19-12-1948), sehingga keadaan gabungan Perguman-perguruan Tinggl di Klaten menjadi kocar-kacir. Para mahasiswa sebagian besar ikut benjuang di garis depan dan sebagian lainn berjuang di lapangan lain dan tidak ada seorang mahasiswapun yang menggabungkan diri dengan Belanda. Sesudah pengembalian Pemerintah RJ di Yogyakart~a, maka PTKH disusun kembail bersama-sama dengan perguruan-perguruan tinggi yang dahulu berada di klaten Sesungguhn;ya pada waktu itu di Klaten bclum ada penghentian tembak menembak ( cease-fre order), tetapi sebagai persiapan telah dimulai pekejaan pemindahan dari klaten ke Yogyakarta, sehingga pada tanggal I Nopember 1949 gabungan perguruan-perguruan tuggidi Klaten dapat dibuka kembali dengan resmi di Kadipaten (Ngasem) Yogyakarta, vang dihadiri juga oleh PJM Presiden RI lr. Sockamo. Karena gedung Perguruan Tinggi di Kadipaten tidak mencukupi tempatnya maka PTKH dan PT Pertanian bertempat di Bintaran Lor 22 Yogyakarta bersama-sama dengan Jawatan Tambang dan Geologi. Satu gedung ditempati tiga instansi, sehingga PTKH hanva mendapatkan 2 buah ruangan masing-masing dengan ukuran 5,25 X 4,75 m dan 4,75 X 4 m yang digunakan untuk ruang kuliah, perpustakaan dan ruang tamu. Di samping itu di paviliun mendapat kan 3 buah ruangan masing-masing bcrukuran 4×2,4 m 6×4 m dan 4×3 m yang digunakan untuk pimpinan administrasi dan kamar tik. Gedung Bintaran Lor 22 ini sangat tua atapnya terbuat dari sirap (kayu). Sungguhpun disana-sini sudah beberapa kali diperbaiki atapnya, tetapi masih bocor, akibatnya banyak buku-buku dan gambar-gambar yang kena air hujan. Dalam tahun ajaran 1949/1950 pada PTKH tercatat 13 orang mahasiswa: Yaitu tingkat I: 6 orang (4 orang baru dan 2 orang lama) tingkat II: 5 orang, tingkat III: 2 orang. Mahasiswa dari tahun ajaran 1 948/1949 yang tidak mencatatkan diri lagi untuk tahun ajaran 1949/1950 sbb: tingkat I: 4 orang, tingkat II: 1 orang, tingkat III selama tahun ajaran 1949/1950 bertambah 2 orang mahasiawa. Oleh karena dalam tahum ajaran 1 949/1950, pada bulan-bulan permulaan masih kekurangan guru dan alat-alat terutama masih kesukaran dalam palajaran-pelajaran praktik, juga karena sebagian mahasiswa datangnya terlambat ada yang baru datang bulan April 1950 dan sebagian lagi masih mempunyai tugas, maka dalam tahum ajaran itu tidak ada mahasiswa yang menempuh ujian. Perlu kiranya diketahui bahwa sebagian kuliah dan praktikum di selenggarakan bersama-sama dengan mahasiswa Perguruan Tinggi Kedokteran Kedokteran Gigi, Farmasi dan Pertanian di Ngasem. Pada tanggal 1 9 Desember 1 949 oleh Pemerintah RI didirikan Universitit Negeri Gadjah Mada, yang terdiri dari gabungan semua Perguruan tinggi di Yogyakarta, dimana PTKH termasuk di dalamnya dan diubah namanya menjadi Fakultit Kedokteran Hewan. Dengan PP No. 10 tahum 1 955, yang termuat dalam lembaran negara No. 44 tahun 1955, terhitung mulai tanggal 21 juh 1955 nama fakultit diubah menjadi Fakultas. Tentang pergantian nama ini juga disinggung dalam pasal 2 ayat 3 dari surat keputusan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan tanggal 1 5 september 1 955 No. 53759/Kab., sehingga lengkapnya setelah diganti menj adi “Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan” Pada tanggal 8 juli 1954, setelah selesainya pembangunan kios di Pagelaran atas kemurahan hati Sekretaris senat Prof. Drs. Mr. Notonegoro Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan pindah dari Bintaran Lor 22 dengan menempati I ,5 kamar. Meskipun sudah pindah tetapi Bintaran Lor 22 masih tems digunakan untuk menyelenggarakan sebagian dari kuliah-kuliah dan untuk perpustakaan. Pada tanggal 2 Februari 1 957 FKHP pindah lagi dari kios Pagelaran ke- rumah Jl. Sekip I (bekas rumah Prof. Dr. M. Sardjito). FKHP menempati gedung yang representative pada tanggal 26 September 1 957 di gedung U mt II Sekip, yang setuarnya merupakan gedung untuk asrama mahasiswa sambil menunggu gedung Fakultas yang masih akan didirikan.

III. FKH UGM di masa transisi (1959-1982)

Pada masa transisi ini FKH masih menjadi satu dengan Fakultas Peternakan dan perkuiiahan juga masih dilaksanakan di berbagai tempat selain di Gedung Sekip Unit II, gedung Balapan panggung No. 7 dan Poliklinik Hewan di Pekapalan barat daya Alun-alun Utara Yogyakarta serta kompleks peternakan di Karangmalang. Pada periode ini di FKHP mempunyai dua jurusan yaitu jurusan dokter hewan dan jurusan peternakan. Penerimaan mahasiswa baru menggunakan sistem tes masuk secara serentak bertingkat untuk seluruh UGM; yaitu tes tertulis yang kemudian diikuti tes wawancara bila tes tertulis berhasil lulus. Siswa yang SMA boleh memilih dua pilihan fakultas dan ada kemungkinan diterima di kedua fakultas. Sistem perkuliahan menggunakan sistem paket yaitu sistem kenaikan tingkat setiap tahun. Melalui beberapa proses penyempurnaan maka mulai tahun 1979/1980 digunakan sistem kredit seperti sekarang ini. Pada periode ini pulalah tajadi pemisahan FKHP menjadi FKH dan Fakultas Peternakan pada tanggal 10 November 1969. Meskipun telah berpisah Fakultas Peternakan masih tetap tinggal di Sekip bersama-sama dengan FKH, sambil menunggu selesainya gedung yang baru. Akhirnya pada bulan April 1982 Fakultas Kedokteran Hewan menempati gedung Sekip Unit II secara penuh setelah Fakultas Peternakan pindah ketempat yang baru di Karangmalang Yogyakarta. Namun demikian semenjak tahun 2003 Fakultas Kedokteran Hewan menempati gedung yang baru di Jl. Olah Raga, Karangangmalang, kembali berkumpul satu halaman dengan Fakultas Peternakan.