Unit Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan Hewan

Pengantar

Unit Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan Hewan (UP2KH) didirikan pada tahun 1992 (Subronto, 1992). Kepemimpinan (UP2KH) pada saat itu secara berturut-turut adalah drh Surono tahun 1992 s/d tahun 1995, drh. Darjono, M.Sc., Ph.D. pada tahun 1995-1998, drh M. Untoro, MS pada tahun 1998-2002, drh Ngripurno, MS tahun 2002.


Tujuan

Tujuan didirikan UP2KH untuk dapat mengimplementasikan dan mengaktualisasikan penyelenggaraan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI sehingga menghasilkan Dokter Hewan dan Ahli Madya Kesehatan Hewan yang handal dan diakui ditingkat nasional dan internasional.

Dengan dukungan dan persetujuan Universitas serta bantuan dana dari berbagai sumber dana pemerintah dan swasta, maka secara bertahap UP2KH memiliki beberapa aset ternak yaitu :

  1. 20 ekor sapi yang terdiri dari:
    • 10 ekor sapi perah produksi
    • ekor sapi perah jantan
    • 5 ekor sapi brangus
    • 2 ekor sapi peranakan ongole
  2. 10 ekor domba dormer
  3. 5 ekor kambing peranakan
  4. 1.500 ekor ayam pedaging
  5. ekor ayam petelur.

Aset ternak tersebut diaflikasikan dengan sistem Program Kesehatan Kelompok Ternak (PKKT). Subronto (1992) memaparkan bahwa : PKKT adalah suatu program penjagaan kesehatan ternak secara terpadu dalam suatu perusahaan peternakan, baik yang menyangkut hewannya sendiri maupun pengaturan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan, hingga usaha peternakan dapat dilakasanakan secara serasi, dan tujuan beternak dapat memenuhi prinsip ekonomi secara optimal. Di negara yang industri Peternakannya telah maju, program tersbut telah dilaksanakan pada senua jenis usaha peternakan, seperti peternakan sapi perah, sapi potong, kuda, ayam, domba, dll.

Dalam melaksanakan PKKT prinsip kesehatan hewan dalam kelompok secara keseluruhan harus selalu ditempatkan sebagai hal yang jauh lebih penting dari pada kesehatan hewan secara individual. Pertimbangan ekonomi serta keamanan modal, baik itu ternaknya sendiri ataupun biaya, waktu dan tenaga yang dicurahkan, selalu menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan peternakan. Makin intensif suatu usaha peternakan, makin ketat pula pelaksanaan PKKT-nya, apabila usaha petrnakan tersebut ingin mencapai hasil yang setinggi-tingginya. Di Indonesia lebih ditekankan kepada usaha pencegahan serta perlindungan ternak dari penyakit-penyakit yang langsung mendatangkan kerugian besar bagi peternak secara luas. Di samping itu juga diberikan perhatian khusus terhadap kemungkinan gangguan kesehatan masyarakat oleh penyakit-penyakit yang dapat menyerang hewan dan manusia, seperti rabies, tuberkulosis dan sebagainya. Dari semula sasaran penyuluhan tentang peternakan lebih ditujuakan kepada peternak rakyat. Bimbingan ke arah peternakan perusahaan baru beberapa tahun ini mendapat perhatian. Bimbingan untuk beternak unggas secara modern telah dirintis sejak 1952, yang terkenal dengan Program Rencana Kesejahteraan Istimewa (RKI). Usaha tersebut mengalami kegagalan, dan berulangkali telah dicoba lagi. Baru sesudah tahun1970, bimbingan masal mencapai kemajuan yang berarti. Memang program penegmbangan ternak unggas tidak menggunakan istilah PKKT, namun dalam prakteknya program tersebut sesuai dengan PKKT. Tidak berlebih untuk dinyatakan bahwa pelaksanaan PKKT untuk ternak unggas pada waktu ini telah dijalankan secara mantap dalam peternakan-peternakan unggas yang besar di Indonesia.

Program Kesehatan Kelompok Ternak, atau herd health program, bertolak dari pemikiran efisiensi ekonomi yang berkembang sesuai dengan kemajuan teknologi, yang pada saat ini untuk mencapai tujuan beternak secara menguntungkan para peternak dipaksa oleh keadaan untuk bersikap kompetitif. Salah satu kendala dalam usaha peternakan adalah masih tingginya ancaman ternak dari penyakit. Dalam hal ini peranan tenaga dokter hewan sangat diperlukan, hingga tidak jarang, dalam melaksanakan PKKT seorang dokter hewan diikutkan sepenuhnya sebagai salah seorang yang menentukan pengelolaan peternakan.

Para dokter hewan yang berkecimpung dalam PKKT dituntut untuk selalu berfikir mementingkan keselamatan modal peternakan secara keseluruhan. Pengetahuan profesi yang ”hanya” dapat digunakan untuk menentukan diagnosa serta mengobati penyakit, baik secara medisinal maupun chirurgis, dianggap tidak cukup oleh peternak yang sudah berfikir kritis serta sepenuhnya berfikiran komersial. Selain penguasaan pengetahuan untuk mengatasi kesehatan dalam arti sempit, dokter hewan masih dituntut untuk menguasai permasalahan peternakan, mulai dari sanitasi, epidemiologi, perkandangan (termasuk konstruksi kandang), makanan ternak mineral yang defisien di daerah peternakan, persusuan, marketing dan sebagainya. Di negara yang industri ternaknya telah berkembang, disadari sepenuhnya bahwa tidaklah mungkin bagi seorang dokter hewan untuk mampu mengusai bidang-bidang diatas secara tuntas. Dengan makin banyaknya biro-biro konsultasi yang bergerak dalam bidang pertanian dan peternakan, serta makin banyaknya laboratoria untuk analisa bahan makanan PKKT tersebut agak dipermudah. Kalau seorang dokter hewan tidak dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh peternak yang dibantunya, setidak-tidaknya dokter tersebut diharapkan dapat menunjukkan kepada siapa peternak tadi harus berkonsultasi.

Pada tahun 2006 UGM nantinya sudah 100% berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara, sebagai persiapan menuju pemberlakuan status tersebut diharap seluruh Civitas Akademika menyesuaikan perilaku sesuai dengan Badan Hukum Milik Negara yaitu Profesional dan bertanggung jawab (Charles, 2005).

Sejalan dengan hal tersebut, Fakultas Kedokteran Hewan UGM juga mengaktifkan kembali Unit Pendidikan dan Pelatihan Kesehatan Hewan (UP2KH) untuk menyediakan kebutuhan mahasiswa akan hewan ternak sebagai laboratorium hayati setelah beberapa tahun dibekukan yaitu dari tahun 2002-2004 karena komplek UP2KH terkena dampak pembangunan kampus baru FKH UGM melalui dana IBIC.
Pengaktifan ini ini dimulai dengan pemeliharaan sapi perah, sapi potong, kambing, domba, ayam, hewan eksotik seperti burung, ular, buaya dan kura-kura.
Laboratorium ternak dan hewan eksotik ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh civitas akademika FKH UGM mulai bulan februari tahun 2005 baik untuk perorangan mahasiswa, kegiatan praktikum, koasistensi dan pelatihan serta penelitian unit pendidikan dan pelatihan kesehatan hewan merupakan unit penunjangFakultas Kedokteran Hewan UGM.

Visi

Menjadikan pendukung agar Fakultas Kedokteran Hewan dapat menyelenggarakan TRI DARMA PERGURUAN TINGGI, sehingga menghasilkan Dokter Hewan dan ahli Maduya Kesehatan Hewan yang handal dan diakui di tingkat Nasional dan Internasional.

Misi

  1. Turut serta menyelenggarakan dan mengembangkan pendidikan tinggi Kedokteran Hewan yang berkualitas.
  2. Menyediakan prasarana dan sarana pendidikan untuk muningkatkan kualitas enelitian yang mendukung pendidikan serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Kedokteran Hewan.
  3. Mendukung peningkatan pengabdian pada masyarakat, bangsa dan negara melalui pendidikan dan pelatihan kesehatan hewan.