Prihatin terhadap Nasib Gajah Sumatera, Fakultas Kedokteran Hewan UGM Inisiasi Konferensi Gajah Nasional

Gajah Sumatra merupakan hewan yang dilindungi. Namun, sayangnya semakin hari populasi gajah Sumatra semakin menyusut. Dalam acara Konferensi Gajah Nasional, Sabtu (26/11/2016) yang difasilitasi oleh Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Yogyakarta, Punahnya salah satu hewan darat terbesar di Indonesia ini dibahas.

Gajah Sumatra menurut status IUCN  kini terancam punah atau “critically endangered”. Gajah Sumatra tengah menghadapi resiko sangat tinggi (ekstrem) terhadap kepunahan alam.”Pemerintah harus menghentikan konversi hutan alam yang tersisa, karena merupakan habitat gajah dan satwa liar lainnya,” jelas Donny Gunaryadi dari Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI).

Gajah Sumatra sendiri statusnya tidak boleh diperdagangkan. Hal tersebut mengacu status di CITES bahwa gajah Sunatra bekategotri “Appendix 1”. Menurut Donny, pemerintah harus moratorium penangkapan gajah dan hukum juga harus berlaku tegas. Selain itu, masyarakat juga harus diberikan pendampingan. Terlebih, masyarakat di daerah hutan alam.

Virus herpes, penyakit EEHV juga breeding yang rendah merupakan penyebab kematian paling besar gajah Sumatra. Selain itu, gajah jinak yang berada di tempat-tempat konservasi atau PLG juga harus lebih diperhatikan.

“Pada 2007, populasi jinak hanya sekitar 500 individu, makin hari makin berkurang. Kalau semua cuek, tak lama lagi gajah hanya ada di buku cerita. Sudah tak ada waktu saling menyalahkan, saatnya semua bertindak, kalau bukan kita siapa lagi,” kata Donny.

Kepala Subdit Pengawetan Jenis, Sukirna Puja Utama menjelaskan pemerintah menyadari adanya beberapa hal yang menyebabkan kelestarian gajah berkurang, diantaranya, hilangnya habitat, konflik manusia dan gajah, perburuan illegal, pemanfaatan organ gajah secara illegal, dan sejumlah virus penyakit.

“Kami mulai menyusun strategi untuk mencegah beberapa hal tersebut untuk periode 2007-2017. Salah satunya memasukan gajah sebagai salah satu satwa terancam punah dan mentarget supaya populasi gajah bisa meningkat 10% hingga 2019,” terang Sukirna.

Dr. Wisnu Nurcahyo dari FKH UGM mengatakan “Pertemuan hari ini tidak hanya berhenti sampai hari ini lalu bubar, tapi setelah pertemuan ini segera kita tindak lanjuti melalui kegiatan nyata di lapangan dengan keterlibatan Direktorat Keanekaragaman Hayati (KKH), Asian Pulp and Paper (APP), VESSWIC, PKBSI, Forum Mahout (FOKMAS), YKSLI dan Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI). FKH UGM siap memfasilitasi”